Jalan-jalan

Bandung-Gununghalu: Perjalanan yang Pendek dengan Cerita yang Panjang

Air sungai di Gununghalu

Setiap Idul Fitri datang, hampir semua orang memiliki momen yang sama: berkumpul dengan keluarga besar, saling bermaaf-maafan, memberikan “angpao” kepada saudara, liburan dan masih banyak lagi.

Lebaran tiba, inilah saat di mana Bandung sedang riuh oleh suara bahagia. Sebagai salah satu kota favorit kaum urban, dia seperti sedang menikmati jam istirahat diselingi canda dan tawa. Tak terkecuali rumah tempat saya tinggal yang berada di Bandung bagian barat. Tentu, tak mau kalah dengan rumah-rumah lainnya yang didatangi oleh sanak famili, rumah saya juga disinggahi oleh banyak orang. Ada yang memang bersilaturahim, tapi ada juga yang datang sengaja untuk mencoba ketupat buatan ibu, seperti yang dilakukan oleh Ridwan, teman SMA saya dulu.

Setelah bermaaf-maafan dengan para tetangga disertai pulangnya teman saya tadi, tinggallah saya dan beberapa keluarga yang saling berkelakar: menyombongkan uang hasil “angpao”, menikmati kue buatan sendiri, sampai merencanakan ke mana kami akan berlibur. Lalu tiba-tiba salah satu saudara saya berujar, “Ke Gununghalu lagi yuk, lebaran tahun kemarin kita kan enggak ke sana” Sontak saja saudara dan anak-anak yang lain menjawab dengan penuh antusias, “ayooo!”

Dengan perawakan yang gempal dan rambut yang jauh dari kata gondrong, Hendra seolah-olah merasa menang karena ajakannya disetujui tanpa adanya perdebatan.

Bagi saya yang tidak memiliki tempat untuk mudik ke kampung halaman, pergi ke Gununghalu bisa disebut suatu tradisi. Di sanalah kami dan keluarga lainnya berkumpul untuk saling menuntaskan rindu setelah sepanjang tahun jarang bertemu. Gununghalu sendiri merupakan tempat Bi Iis (bibi dari pihak ibu) saya tinggal, dan seperti sudah menjadi kebiasaan, setiap lebaran datang kami berduyun-duyun pergi ke sana.

Berkumpulnya beberapa keluarga di desa saudara kami itu adalah salah satu bentuk keakraban yang selalu kami lakukan. Hampir tiap tahun, jika tak ada halangan kami selalu berkunjung ke sana. Di desa itulah tempat keluarga besar kami bermeditasi dengan suasana alam yang khas: sunyi, ramah, dan bersahabat.

***

Gununghalu termasuk daerah Kabupaten Bandung Barat, sekitar 60 kilometer dari Kota Bandung. Dikarenakan terbatasnya kendaraan, juga tak adanya mobil sewaan yang agak memadai, kami akhirnya memutuskan untuk menyewa angkot (angkutan kota). Untuk menyiasati empat belas orang agar masuk semua, kami menggelar tikar di dalam angkot.

Andri, saudara saya yang dianggap pandai berdiplomasi menjalankan tugasnya untuk berdiskusi dengan supir angkot bernama Ujang. Selain menentukan tarif, dia juga mencoba ngobrol soal kemungkinan kesiapan Ujang mengantar jemput rombongan kami secara pulang pergi.

Diskusi selesai dengan kesepakatan yang telah terjalin, kami segera memasuki angkot. Untuk ibu-ibu dan bapak-bapak ditempatkan di tempat yang dianggap nyaman, sedangkan saya dan beberapa saudara yang lebih muda duduk beralaskan tikar.

Selama perjalanan, kami bersendau-gurau. Melewati jalan Leuwigajah – Nanjung – Cihampelas – Cililin – Sindangkerta – Gununghalu. Jalanan yang tidak terlalu ramai membuat saya dan beberapa saudara sangat menikmati perjalanan. Di titik tertentu, saat mang Ujang hendak menyalip sebuah mobil lain, mobil angkot yang kami tumpangi mulai terasa agak kurang bertenaga. Sambil bercanda, mang Ujang berkata, “mobil ieu mah mun balap mbungeun, mun diadu wanieun” (mobil ini kalau diajak balap enggak mau, kalau ditabrakin baru berani). Sambil mengunyah cemilan, kami semua tertawa mendengarnya.

Di tengah perjalanan, adik saya, Yusuf, mulai mengeluh. Jalanan bekelok saat hendak masuk kawasan perkebunan teh Montoya membuat adik saya merasa pusing. Tak tahan karena pusing, Yusuf muntah, dan seisi angkot mulai “heboh”

Udara yang cukup dingin menyambut kedatangan kami di Gununghalu. Padi yang menguning menandakan musim panen telah tiba. Lagi, Andri kembali berdiskusi dengan mang Ujang untuk merencanakan agar besok angkot kembali ke Gununghalu, ini dikarenakan kami akan menginap dan pulang besok sore. Sedangakan mang Ujang dan angkotnya harus kembali ke Bandung hari itu juga. Kesepakatan terjadi, kami berlalu menuju jalanan dengan latar gunung-gunung dan sawah.

Berjalan Beriringan di Gununghalu

WhatsApp Image 2017-07-03 at 14.05.04

Kami berjalan beriringan melewati jalan setapak menuju kampung Pasir Hoe yang menjadi tempat tinggal Bi Iis. Setiap melewati rumah-rumah warga, pasti kami disapa terlebih dahulu. Inilah sesuatu yang khas dari desa, meski tak saling kenal satu sama lain tapi kami saling bertegur sapa.

Sampailah kami di rumah panggung kepunyaan Bi Iis. Saya membayangkan bagaimana rasanya bila malam datang, udara pasti menyelinap lewat liang-liang kecil dan membuat tidur terasa nyenyak. Ahhh… saya ingin segera malam, ujar saya dalam hati.

Salah satu kebiasaan saat kami berkunjung ke Gununghalu adalah memancing di kolam kepunyaan Bi Iis. Ikan jaer yang menari-nari di dalam kolam seolah menarik perhatian saya untuk mendapatkannya. Namun, saat itu air kolam sedang surut, terpaksa saya dan beberapa saudara menangkap secara langsung. Saat saya dan beberapa saudara sibuk menangkap ikan, ibu-ibu bertugas menyiapkan bumbu masakan. Kombinasi yang bagus bukan?

Malam harinya, kami memakan ikan hasil tangkapan. Entah perasaan saya atau memang suasananya yang berbeda, menyantap ikan di Gununghalu selalu terasa nikmat, apalagi makan bersama keluarga besar.

Keeseokan harinya sebelum pulang, kami menghabiskan waktu dengan bermain. Menghirup udara desa dan bermain di air sungai yang berfungsi untuk mengairi sawah warga adalah keasyikan tersendiri. Sepupu saya, Dina dan Tiara, tak henti-hentinya memotret pemandangan dibarengi selfie.

Sampailah waktunya kami untuk pulang ke Bandung. Namun kejadian tak menyenangkan datang. Tak ada respon dari mang Uang saat Andri menghubunginya untuk memastikan tempat bertemu. Handphonenya tak bisa dihubungi. Kami mencoba untuk tidak berprasangka, namun setelah menunggu sekitar 2 jam kami menyerah juga dan mulai mencari solusi agar tetap bisa pulang.

Tiara dan Dina mulai menggerutu. “Supir angkot pikasebeuleun,” kata Tiara sambil menampilkan mimik kesal. “Iya, padahal uang DP untuk pembayaran ongkos kepulangan kan sudah dibayar,” Dina menambahkan.

Sampai pada akhirnya Bi Iis membantu kami, beliau mencarikan angkutan yang bisa membawa kami pulang. Setelah bertanya ke sana-kemari, Bi Iis mendapatkan info perihal kendaraan yang bisa membawa kami pulang ke Bandung: mobil pick up (mobil bak terbuka).

Bersiap menaiki mobil pick up

Mau tak mau akhirnya kami menaiki mobil tersebut. Beberapa dari kami menggerutu, tapi saya dan beberapa saudara lainnya justru menikmatinya. “Kapan lagi naik mobil pick up gini?” kata Hendra dengan antusias.

Tak sampai di situ, di jalan menuju pulang, tepatnya di daerah Cihampelas, mobil pick up yang kami tumpangi mogok karena satu dan lain hal. Saya dan beberapa saudara membantu mendorong sampai menemukan bengkel. Tak butuh waktu lama, mobil kembali hidup. Kami bersorak kegirangan.

Bagi saya, perjalanan kali ini cukup berkesan karena banyak kejutan kecil yang mengiringi.

Iklan

2 thoughts on “Bandung-Gununghalu: Perjalanan yang Pendek dengan Cerita yang Panjang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s