Cerpen

Kamar Gelap

kamar gelap

Mereka duduk berhadapan di meja bernomor sepuluh. Andra menggunakan parka berwarna hitam, celana chino kecoklatan,  dan sepatu converse chucky taylor all star. Tak cukup di situ, dia kian terlihat tampan dengan model rambut undercut yang telah dilumasi pomade. Sedangkan di hadapannya, terdapat sosok perempuan yang tak kalah stylish: rambut sebahu, berkaca mata, menggunakan jeans berwarna biru navy dan t-shirt bertuliskan Arctic Monkeys, juga merk sepatu berlogo tiga garis. Vinca, sosok perempuan yang terlihat begitu mempesona malam itu.

Ini adalah pertemuan kesekian kalinya, namun untuk urusan makan berduaan, ini adalah kali pertama. Maka tak heran jika penampilan keduanya begitu maksimal. Walaupun nyatanya, di kehidupan sehari-hari gaya keduanya sangat sederhana, terutama Andra.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Andra. Dilanjutkan menunjuk menu yang telah dia pinta pada pelayan.

“Hm… Aku nggak makan ah, green tea aja.” Jawab Vinca. “Kamu aja yang makan, lapar kan?”

“Yakin nggak makan? Jangan sampe pulang dari sini kamu menunggu pedagang nasi goreng depan rumah.”

“Yakiiin.”

Malam itu, makan dan minum bagi keduanya hanya alasan. Bukan apa-apa, Andra sudah makan sehabis maghrib, sebelum dia mengajak Vinca untuk kencan dan mengelilingi Bandung. Pun begitu dengan Vinca, ia lagi nggak lapar-lapar amat. Apalagi sepulang kerja ia telah menghabiskan kue bawaan temannya yang berulang tahun.

Andra sedikit malu-malu, tapi tidak dengan Vinca. Dengan pembawaan yang santai, Vinca mencoba membuka obrolan dengan topik-topik yang ringan. Beralasan memang, pekerjaan Vinca sebagai sales promotion girl membuat dia tahu dari mana obrolan harus dimulai.

“Eh, tadi pas kamu kirim whatsapp aku nggak sempet bales. Lagi kerja soalnya.” Tanpa meminta maaf Vinca membuka obrolan.

“Iya, ngerti.”

Tak lama, pelayan datang dengan membawa pesanan.

“Silakan mas, mba. Green tea satu, beef steak washington satu, es lemon tea satu. Selamat menikmati.” Pelayan datang dan meletakkan makanan juga minuman pesanan di meja mereka.

“Makasih, mbak.” Andra dan Vinca menimpali, diiringi tatapan dan senyuman secara bersamaan.

Andra mulai terlihat santai. Dimulai menyeruputi es lemon tea pesanannya, lalu bersiap menghajar beef steak washington. Sambil makan mereka ngobrol ngalor-ngidul.

Sambil menuntaskan makanan yang dipesan, sebenarnya Andra juga sedang menuntaskan rindu. Ya, dia sangat merindukan momen-momen seperti ini. Makan “mewah” dengan ditemani perempuan. Tentu saja mereka tidak berpacaran, tapi Andra yakin jika pelayan di cafe itu akan beranggapan lain.

“Habis ini kita ke mana?” Andra bertanya saat makanan dan minuman di meja mereka sudah hampir habis.

“Pulang aja yah, udah terlalu malam.” Jawab Vinca. “Lain kali kalau mau ngajak main agak siangan dikit.”

“Hehehe… ngedadak sih, tanpa rencana. Ini karena gabut aja di rumah.”

Setelah membayar makanan, mereka keluar cafe menuju parkiran. Langit sedang bagus. Bulan menampakkan wujudnya setengah lingkaran. Sedangkan di jalanan sekitar cafe, daun-daun tertiup angin seolah tersenyum melihat mereka berdua.

Andra mengantarkan Vinca pulang. Dengan motor berkekuatan 125cc dia hanya menjalankan motor dengan kecepatan 20-30 km/jam saja, padahal jalanan lengang. Satu alasannya, dia masih ingin berlama-lama bersama Vinca.

Kurang dari 1 kilometer lagi mereka akan sampai. Sepanjang jalan, Andra dan Vinca bercerita banyak. Dari cerita mantan kekasih, masalah kerjaan, tipe-tipe pasangan idaman dan masih banyak lagi.

Sesaat setelah masuk komplek perumahan, Vinca melontarkan pertanyaan absurd kepada Andra.

“Ndra, kamu kalau makan bubur diaduk atau nggak?”

“Hah… pertanyaan macam apa ini?” Andra heran, diselingi tawa. “Harus ya dijawab.”

“Hahaha… nggak tau, pengen aja nanya gitu.”

“Hmm… Diaduk. Kalau kamu?”

“Sama.”

Tak lama setelah pertanyaan absurd itu, mereka sampai di perumahan Bumi Asri, tempat tinggal Vinca. Sebelum memutar arah untuk pulang, Andra berpamitan sambil melempar senyum.

Andra tak langsung menuju rumah. Motor yang dia tunggangi mengarah ke kawasan Bandung Utara menuju rumah Iyas, sahabatnya, dengan tujuan hendak menukar motor dan mengembalikan parka, celana chino juga converse chucky taylor all star yang telah dipinjamnya.

***

Tikus berlari sesekali berhenti. Tirai berdesis angin malam. Jam dinding menunjukkan pukul 1.25 WIB saat Andra melamun di jendela kamarnya yang langsung menuju pemandangan jalan. Dalam lamunannya, Andra harus memutar otak untuk mendapatkan uang tambahan agar satu bulan ke depan dia tak selalu berkawan dengan mie instan. Terlihat seekor kucing sedang berdiam diri di tengah jalan yang tidak terlalu luas itu. Sebelum tersadar dalam lamunannya, Andra melihat beberapa kucing lainnya berdatangan. Entah kenapa, Andra menganggap kucing-kucing  itu sedang menertawakan dirinya. Andra melihat salah satu dari kucing-kucing itu adalah reinkarnasi dari Charles Bukowski, penyair dan novelis favoritnya.

Dan kini jalanan yang mulai sepi itu milik para kucing.

 

 

Ilustrasi: http://rhunyc.deviantart.com/art/Dark-room-100858242

Iklan

3 thoughts on “Kamar Gelap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s