Hembusan Suara

Berkendara Layaknya Che Guevara dan “Momotoran” ala Doel Sumbang

akay3

Dalam film The Motorcycle Diaries, Ernesto ‘Che’ Guevara dan Alberto Granado – yang masing-masing diperankan oleh Gael Garcia Bernal dan Rodrigo de la Serna – melakukan perjalanan berjarak ribuan kilometer. Mereka hendak mengarungi Amerika Selatan. Keduanya berangkat mengendarai sepeda motor Norton 500 yang diberi nama La Poderosa atau Yang Perkasa.

Awalnya, Che Guevara dan Granado berniat untuk merasakan sensasi petualangan dan bersenang-senang, selain bekerja secara sukarela membantu penderita kusta di Peru. Kalau sekarang, mirip-mirip touring komunitas motor lah, yang bersenang-bersenang sambil baksos, misalnya.

Tapi, dalam perjalanannya, Che Guevara dan Granado justru mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Mereka banyak menjumpai ketidakadilan dan kesengsaraan yang terjadi di masyarakat. Layaknya mendapat rahmat dan hidayah, mereka jadi lebih peka terhadap kondisi sosial. Sesuatu yang kelak menjadikan Che Guevara sebagai seorang revolusioner sejati.

Sementara itu, jauh terpisah jarak dan waktu, seorang penyanyi dari tanah Pasundan bernama Doel Sumbang dalam lagunya berjudul momotoran seolah prihatin dengan kondisi alam pegunungan dan pesisir pantai, yang ternyata menurutnya jauh dari ‘indah’. Ia juga sedikit menyinggung Kota Bandung yang mulai penuh dengan gedung bertingkat.

Dari lagu momotoran dan film The Motorcycle Diaries, saya menangkap ada keresahan dan kegelisahan.

Nah, belum lama ini, saya gaya-gayaan ingin merasakan perjalanan ala Che Guevara dan membuktikan apa yang Doel Sumbang suarakan dalam lagunya. Ya, meski bukan di Amerika Selatan dan jaraknya pun tak sampai ribuan kilometer. Tapi, perjalanan saya bersama Komunitas Aleut bisa dibilang cukup panjang. Menyusuri rute jalur pantai selatan.

Karena saya berdomisili di Bandung, saya dan kawan-kawan membagi dua sesi perjalanan. Sesi pertama, rute pantai selatan arah timur (Bandung-Rancabuaya-Singaparna-Bandung). Sesi kedua, rute pantai selatan arah barat (Bandung-Cianjur-Sukabumi-Bayah). Selama perjalanan, kami banyak melewati jalur yang tidak populer.

Dari situ, saya banyak sekali menemukan hal-hal baru. Tahukah kamu apa yang ada di benak saya saat melakukan perjalanan itu? Ya benar, saya seolah-olah menjadi Che Guevara. Ya kaliii…

Dalam suatu perjalanan, sangat mudah bagi orang-orang untuk berkata, “Perjalanan ini sungguh mengesankan.” Atau, “Pemandangan selama perjalanan kali ini sangat aduhai,” dan hal-hal lain yang terkesan menyenangkan. Tak salah, memang. Tapi tahukah jika sebenarnya ada hal-hal yang kadang tidak disadari selama perjalanan? Antar sesama teman seperjalanan saja sering terjadi ‘perang dingin’.

Pernah merasa bahwa hal yang cukup berat dalam suatu perjalanan adalah saling menahan ego masing-masing individu?

Belum lagi soal keluarga. Saya kebetulan tidak memberitahu ibu untuk berpergian cukup jauh. Bukan karena takut tidak dapat izin, tapi khawatir beliau terlalu risau. Sebab, tidak mudah melakukan perjalanan bermotor selama 4 hari dengan jarak hampir 600 kilometer. Sangat berpotensi membuat orang tua gundah gulana. Iya dong, mereka takut anaknya yang mengaku mirip Che Guevara muda ini kenapa-kenapa.

Dalam sebuah perjalanan, biasanya orang sangat antusias terhadap daerah baru yang dikunjungi. Melihat hal-hal yang berbeda dari tempat tinggal tentunya memberikan pengalaman unik. Namun, antusiasme ternyata tak sebesar yang diharapkan. Ada beberapa hal yang bikin antusiasme itu hilang. Salah satunya, keberadaan minimarket yang menjamur di sepanjang jalan, bahkan sampai ke pelosok-pelosok perdesaan.

Tak munafik memang, minimarket yang bejibun itu memberikan kemudahan bagi masyarakat, termasuk orang yang melintasi daerah tersebut. Namun, apalagi yang membedakan warung-warung setempat dengan warung di daerah lain, jika semua menjadi sama?

Padahal, jika disadari, keberadaan warung-warung kecil dengan jajanan khasnya adalah persinggahan yang diharapkan dalam perjalanan. Tak hanya itu, komunikasi dua arah dengan pemilik warung-warung kecil sebenarnya juga dinantikan. Hanya dengan membeli secangkir kopi, kita bisa ngobrol ke sana kemari. Bercerita panjang lebar tentang kearifan lokal. Bukan cuma satu ucapan yang seragam, “Selamat pagi, selamat datang di minimarket kami.” Setelah itu, bertransaksi dan selesai. Udah gitu aja.

Seorang kawan bahkan sempat bercanda saat melaju melintasi jalur hutan yang banyak jalan berkeloknya tanpa tahu kapan jalur itu akan habis. “Ayooo! Semangat! Minimarket satu kilometer lagi!”

Minimarket yang kapitalistik itu sudah mewabah ke pelosok-pelosok desa, mengancam warung-warung kecil nan tradisional milik masyarakat setempat. Perlu tambahan kebijakan dari pemerintah yang lebih adil agar masyarakat setempat tidak sengsara. Masa cuma kebagian jadi kasir sama juru parkir?

Kalau mau egois, keberadaan minimarket sangat mendukung kami yang melakukan perjalanan cukup jauh. Tentu saja bila keuangan masih aman. Jika keuangan sudah kritis, baru melipir ke warung-warung kecil pinggir jalan. Egois sekali kan?

Itu hanya satu contoh. Masih banyak cara untuk menikmati perjalanan agar antusiasme tetap terjaga. Misalnya, dengan mendalami sejarah tempatnya. Saat perjalanan menuju Bayah, pikiran saya terbawa dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimanakah suasana terkini Bayah, kota di mana Tan Malaka pernah menjadi juru tulis itu? Di mana stasiun dan rel kereta api yang sempat ramai di zaman dahulu itu? Atau, bagaimana bentuk tugu romusha yang ada di sana?

Saya mendapatkan jawabannya, dan antusiasme perjalanan kembali hadir.

Kembali pada film The Motorcycle Diaries. Dalam suatu perjalanan, beberapa pilihan destinasi kerap lebih penting dari apa yang bisa dirangkum selama perjalanan. Padahal, di balik itu semua, ada makna yang lebih bernilai. Yang indah-indah itu fana, esensi hidup abadi. Yang fana itu anggap saja hanya bonus.

Nah, dari perjalanan  tersebut, saya jadi teringat monolog Che Guevara yang berbunyi, “Ibu tercinta, ada yang hilang saat kita melintasi batas. Setiap peristiwa seperti terbagi jadi dua kisah melankolis. Untuk sesuatu yang tertinggal dan di sisi lain untuk antusiasme karena memasuki daerah baru.”

Duh, harusnya kalimat itu saya kirim ke ibu, biar beliau tahu kalau anaknya tak hanya jago ngasih kata-kata bagus sama gebetannya, tapi juga sama ibunda tercinta.

 

*Tulisan ini pertama kali dimuat di voxpop.id edisi 7 April 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s