Resensi Buku

Bercermin Lewat Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya; Kisah Sufi dari Madura

Ternyata mendapatkan buku yang diinginkan tidak jauh beda dengan mempersunting perempuan pujaan. Jika sudah ditakdirkan berjodoh, bagaimanapun cara mendapatkannya pasti akan dipertemukan. Pengalaman itu saya rasakan saat saya menginginkan sebuah buku dengan cover yang aduhai dan colorful berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya; Kisah Sufi dari Madura karya Rusdi Mathari.

 Dalam obrolan di grup whatsapp, ketika bahasan sedang mengarah tentang perbukuan, saya bertanya pada seluruh penghuni grup “Ada yang punya buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya-nya Rusdi Mathari?” Lalu beberapa kawan menyahut dengan jawaban yang sama, “tidak punya”

Karena kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan untuk membeli buku tersebut, saya mencoba untuk sekadar meminjam, walaupun ternyata tak seorang pun kawan yang memilikinya. Tentu, saya bukan Muhidin M. Dahlan sebagaimana yang diceritakan di buku “Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta” di mana beliau berani menyisihkan uang untuk membeli buku dengan risiko hanya makan satu kali dalam sehari. Saya tak seberani itu.

Judul yang menarik, cover yang bagus, ditambah penerbit yang sudah tak asing lagi membuat saya menggebu-gebu untuk memiliki buku dengan tebal 226 halaman ini. Sebagai alumni jamaah mojokiyah, saya mempunyai perasaan sentimental dengan nama penerbit ini. Alasan paling mendasar karena beberapa tulisan yang pernah saya kirim ke situs web mojok.co tak urung dimuat. Dan penyesalan itu masih berbekas sampai sekarang, sampai situs web itu telah tiada.

Satu tahun lebih saya mengenal situs mojok.co. Belum lama memang, tapi selama perkenalan yang singkat itu, beberapa kali saya sempat membaca nama Rusdi Muthari muncul sebagai penulis di media bertagline sedikit nakal banyak akal tersebut. Saya jarang membaca tulisan Rusdi secara rutin di situs web mojok, hanya sesekali saja saya membaca tulisannya. Justru saya lebih sering membaca tulisan Prima S. Wardhani si penyunting buku ini dibandingkan membaca tulisan Rusdi Mathari, sang penulis buku.

Lalu bagaimana kisah pertemuan saya dengan buku ini, sampai akhirnya saya memilikinya?

Beberapa hari yang lalu, tulisan saya berhasil dimuat di minumkopi.com. Tulisan tersebut yang akhirnya mengantarkan saya untuk mendapatkan buku ini. Karena tulisan saya yang berhasil dimuat itu, minumkopi.com berbaik hati untuk “menukar cerita dengan cerita.” Dalam artian, karena tulisan saya dimuat di webnya, maka saya berhak mendapatkan buku yang saya inginkan, khusus penerbit Buku Mojok.

Dari sekian banyaknya buku terbitan Buku Mojok, buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya; Kisah Sufi dari Madura tentu saja menjadi pilihan saya. Dan tak butuh waktu lama, beberapa hari kemudian buku tersebut sampai di tangan saya dengan selamat.

Setelah kejadian itu, saya percaya jika buku memang memiliki jodohnya masing-masing. Sampai  pada akhirnya buku ini berjodoh dengan saya. Ungkapan “Kalau Jodoh Tak Kemana”  kali ini berlaku bagi saya dan buku ini.

Perlu diketahui, buku ini mulanya adalah tulisan berseri selama dua tahun di situs web mojok.co. Sejak pertama kali tayang, kisah sufi dari Madura bernama Cak Dlahom ini segera digemari. Dibaca lebih dari setengah juta pemirsa mojok.co.

Rusdi Mathari yang saya kenal sebelumnya sebagai penulis di mojok.co, dalam bukunya ini ternyata lebih dari yang saya bayangkan. Rusdi menurut saya, pintar menerjemahkan satu judul menjadi cerita yang mudah dipahami dan membuat kepala angguk-angguk. Rangkaian kalimat yang digunakan pun enak untuk dibaca. Membuat saya sebagai pembaca, merasa mengalir dan terbawa dalam cerita di setiap judulnya.

Buku yang menurut saya bagus. Dari 30 judul cerita yang ada di buku ini, hampir semuanya memberikan pesan mendalam yang mana pada setiap konfliknya tak jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Buku ini juga seolah-olah menyuruh kita untuk bercermin dengan contoh-contoh pada tokoh yang terdapat di buku ini. Lebih tepatnya, menasehati tanpa terkesan menggurui.

Mahfud Ikhwan, di pengantarnya  menulis potongan lirik qawwali-nya Gulzar “ia memperdayamu… memperdayamu” diiringi kalimat ajakan agar jangan mempercayai isi buku ini karena akan memperdaya para pembacanya.

Cak Dlahom yang menjadi tokoh utama di buku ini seolah menampar saya dan mungkin pembaca lainnya dengan perilaku dan omongan-omongannya. Sebagai manusia modern dengan berbagai macam perilaku, kita seolah sedang diceramahi oleh Cak Dlahom, seorang yang dianggap tidak waras, sinting, dan gila.

Buku ini terbagi ke dalam dua bab, Ramadan Pertama dan Ramadan Kedua. Bercerita dengan nuansa bulan Ramadan, di mana antara Ramadan Pertama dan Ramadan Kedua merupakan suasana Ramadan pada tahun yang berbeda.

Ada beberapa cerita di mana kita sebagai pembaca justru seperti disuruh untuk menentukan atau menafsirkan sendiri maksud cerita tersebut. Seperti pada cerita “Pak Haji, Bu Puasa… Mbah Syahadat”.

“Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang-orang yang puasa dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat?”

Dengan akan datangnya bulan Ramadan, buku Rusdi Mathari dalam bukunya ini sangat saya sarankan untuk kalian. Setelah membaca buku karya Rusdi ini, saya sarankan agar nanti saat Ramadan datang jangan sekali-kali membentangkan “Selamat Datang ya Ramadan. Kami Rindu Padamu”

Kenapa? Kalian akan menemukan jawabannya di buku ini.

Saya pikir, buku ini menjadi medium perkenalan singkat saya dengan Rusdi Mathari. Tak hanya itu, saya juga mulai berkenalan dengan Cak Dlahom, Mat Piti, Romlah, dan tokoh-tokoh lainnya.

Kekurangan dari buku ini, menurut saya yakni tidak terlalu signifikannya perbedaan antara cerita di bab Ramadan Pertama dengan bab Ramadan kedua. Karena tadinya, saya berpikir antara bab satu dengan bab lainnya – walaupun masih bertema Ramadan – akan memiliki perbedaan yang mencolok.

Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya ini seolah menjadi pengingat. Di kehidupan sehari-hari, kita yang kadang merasa selalu paling benar nyatanya belum tentu paling benar. Dan setelah membaca buku ini, saya mulai menyukai setiap laku Cak Dlahom, tokoh utama yang ada di cerita ini, mengalahkan kesukaan saya kepada penulisnya sendiri, Rusdi Mathari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s