Cerpen

Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa

Bandung dari Arah Utara

Thomas dan Faraday yang sama-sama renta itu bersekongkol, mereka bertukar pikiran di sebuah kedai yang jauh di antah berantah. Persekongkolan mereka sederhana, mereka ingin mematikan aliran listrik dan cahaya lampu yang ada di salah satu kota di dunia ini, lalu nama Bandung tiba-tiba terbersit di pikiran mereka berdua. Entah kenapa mesti Bandung, padahal masih banyak kota-kota lain di dunia ini.

Bukit Pakar Timur 111, saat itu bertepatan dengan hari Rabu. Karena hujan yang mengguyur Bandung cukup deras, aku terlambat ke tempat itu. Bayangan raut wajahnya yang cemberut menghantuiku sepanjang jalan. Tentu, kami janjian selepas isya dan aku terlambat hampir satu jam lebih.

Dengan tergesa-gesa aku memarkirkan motor, masuk merengsek pintu dan tangga berbahan kayu. Seorang pelayan menyapaku dengan ramah,“Selamat malam, Mas,” sapanya.

Aku melemparkan wajah ke setiap meja yang berderet, lalu menanggapinya dengan dingin, “Malam, mbak,” balasku. Hmmm…  Aku melihat seseorang yang akan kutemui, lalu menghampirinya.

“Maaf telat, hujan besar,” ujarku.

“Nggak apa-apa,” jawabnya. “Gih pesan dulu.”

Aku memesan makanan, lalu duduk di pinggirnya. Sedikit canggung, tentu saja. Entah bagaimana caranya dia yang ketika Ashar masih berada di Tangerang Selatan sana tiba-tiba saja sehabis isya sudah berada di Dago.

Meja tempat kami duduk menghadap ke arah selatan. Langsung menuju pemandangan Kota Bandung, jika siang mungkin deretan gunung-gunung itu akan menyapa kami. Tapi tak apa, gemerlap cahaya dari lampu-lampu sana seolah menjadi teman kami saat itu. Di tempat ini hanya ada kami dan sepasang muda-mudi yang sedang menghabiskan minuman pada gelas terakhirnya. Tak lama mereka beranjak pergi. Setelah itu hanya kami berdua, eh nggak, ada dua orang pelayan yang berjarak cukup jauh sedang asyik memainkan handphone.

Kami banyak bercerita. Aku menggengam rasa rindu yang ia beri, pun begitu sebaliknya. Cahaya lampu dari tengah kota seolah menerangi obrolan kami.

“Hey, kelak salah satu dari cahaya lampu di sana akan menjadi tempat kita tinggal” celotehku.

“Kau yakin?”

“Sangat yakin” balasku. Akan kubawa kau dari Tangerang untuk menemaniku di kota yang aku cintai ini.

“Kalau aku nggak mau?”

“Kau boleh bilang seperti itu sekarang, tapi lihat saja nanti. Kau akan betah tinggal di sana.”

Kami saling memandang beberapa detik dengan tatapan yang tajam.

“Oiya, ini lagu favoritku,” ujarnya. Sebuah lagu tiba-tiba menggema di sudut ruangan. Padahal jika lagu itu tak berbunyi, entah apa yang akan terjadi.

“Oiya? Kamu suka?”

“Suka.”

“Hampir semua lagu di album ‘Gajah’ ini aku suka,” tambahnya.

“Yang paling kau suka?”

“Jangan Cintai Aku Apa Adanya.” Dengan tegas ia menjawab pertanyaanku.

Sambil menunggu pesanan datang kami bercerita lagu-lagu favorit. Tentu ini dipicu dari lagu yang baru saja kami dengarkan.

Namun tak berapa lama langit seketika gelap, pijaran lampu yang tadinya terang tiba-tiba saja menjadi gulita. Aku dan dia tak lagi di Bukit Pakar Timur. Entah di mana, yang jelas gelap itu telah membuat kami ke ruangan yang bahkan kami pun tak tahu di mana. Tapi satu hal, tetap dengan genggaman yang erat.

Thomas dan Faraday menghabiskan kopinya, mereka telah menekan tombol berwarna merah secara bersamaan. Lalu tertawa terbahak-bahak.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s