Kelas Literasi

Kelas Literasi: Menggabungkan Semangat Berbagi, Berdiskusi, dan Konsistensi

IMG_20160716_183102

Jika boleh berasumsi, bisa dikatakan Jogja adalah kota penerbit. Dari sekian banyak penerbit yang ada di kota gudeg ini, beberapa di antaranya sudah saya kenal karena memang buku-buku hasil terbitannya berjejer rapi di rak kecil yang sering saya kunjungi di Pustaka Preanger–perpustakaan milik Komunitas Aleut.

Sedangkan Bandung, kota tempat saya tinggal ini, adalah kota yang cukup terkenal dengan berbagai macam komunitas. Dari sekian banyaknya komunitas yang ada di Bandung, Komunitas Aleut –komunitas pengapresiasi sejarah Kota Bandung dan sekitarnya– adalah salah satu komunitas yang saya ikuti.

Dua perbedaan dari kedua kota ini sangat saya rasakan betul. Di Jogja, tumbuh pesatnya penerbit-penerbit terutama penerbit baru semakin hari semakin gencar. Di sisi lain, Bandung seperti yang sudah saya sebutkan tadi,  dengan ragam komunitas yang ada, menjadikannya sebagai salah satu kota yang menjadi kiblat komunitas di Indonesia.

Ternyata tak hanya itu, beberapa tahun ke belakang, kantung-kantung literasi mulai terasa menggeliat di Kota Bandung. Walaupun bukan dalam hal penerbitan (karena menurut saya Jogja masih yang terdepan kalau dalam urusan ini) namun beberapa kegiatan seputar literasi mulai mewabah di kota yang konon dulunya pernah dijuluki sebagai kota kuburan ini.

Karena tinggal di Bandung, saya sangat merasakan geliat itu. Salah satu buktinya adalah kegiatan yang dilaksanakan di akhir tahun 2016 dengan tema “Pekan Literasi Kebangsaan” yang mana acara ini diselenggarakan di Gedung Indonesia Menggugat, tempat bersejarah karena menjadi tempat pembacaan pledoi Bung Karno di tahun 1930.

Jauh sebelum kegiatan itu, dalam komunitas yang saya ikuti, saya sudah cukup sering melakukan kegiatan seputar literasi yang mencakup dalam berbagai hal: membaca, menulis, mendengarkan, dan juga menyimak. Ditambah dengan diskusi lainnya yang setiap Sabtu rutin dilaksanakan. Kegiatan itu bernama Kelas Literasi Pustaka Preanger.

Saya bergabung di Komunitas ini pada pertengahan tahun 2015, Aleut yang berarti berjalan beriringan ini adalah komunitas pengapresiasi sejarah Kota Bandung dan sekitarnya di mana salah satu kegiatannya yaitu mendatangi tempat-tempat yang dianggap bersejarah atau mempunyai nilai untuk diapresiasi. Seiring perkembangan dan berjalannya waktu, komunitas ini tak hanya berkutat di ruang lingkup sejarah saja. Kini, komunitas Aleut mempunyai kegiatan lain bernama kelas literasi.

Kelas literasi, yang dulu bernama kelas resensi adalah kegiatan yang di awal-awal kemunculannya hanya sebatas meresensi buku. Para peserta mengupas dan membagikan pengalaman membaca buku yang ia baca lalu memberikan pendapatnya di forum. Pendapat dari setiap peserta terhadap buku yang dibacanya tentu saja bermacam-macam. Ada yang bilang “buku ini bagus dan sangat recommended buat dibaca karena bla…bla…bla” atau “buku ini kurang bagus karena bla… bla… bla…”.

Saya masih ingat betul saat pertama kali mengikuti kegiatan ini. Jujur, saya tak pandai bercakap. Jangankan beradu argumen, berbicara di depan orang banyak pun saya begitu terbata-bata, tak jarang keringat dingin bercucuran ke setiap anggota tubuh. Namun saya sangat menikmati berbagai proses yang saya jalani, sampai akhirnya saya mulai berani untuk mengungkapkan pendapat dan mulai sering beradu argumen.

Kelas literasi ini digagas oleh seorang kawan yang menjabat sebagai koordinator bernama Irfan Teguh. Dari sejak pertama kali diselenggarakan, sampai sejauh ini kelas literasi sudah melangkah sampai pekan ke-84. Artinya sudah 21 bulan kegiatan ini berlangsung, hampir 2 tahun loh. Sebuah pencapaian yang sebenarnya belum ada apa-apanya, namun dengan kobaran semangat tinggi, perjalanan panjang tanpa jeda kegiatan ini perlu dipertahankan. Beberapa alasannya, selain untuk mengembangkan minat belajar juga memelihara agar kantung-kantung literasi di Kota Bandung semakin semarak.

Perjalanan Kelas Literasi

Dari awal perjalanannya sampai sekarang, naik turun peserta sangat terasa. Tak jarang, kelas ini begitu ramai dihadiri para peserta (karena memang tak hanya anggota Komunitas Aleut saja yang boleh mengikuti acara ini, siapa saja boleh ikut). Namun tak jarang pula peserta hanya diikuti oleh 3-4 orang. Satu yang pasti, berapapun peserta yang hadir, acara ini pasti melangsungkan kegiatannya dengan konsisten.

Sekitar sampai pekan 30-an (saya lupa tepatnya) kelas ini bernama kelas resensi buku. Seiring berkembangnya bacaan dan hal-hal lainnya, kelas ini mulai memberlakukan tema di setiap pekannya dan berganti nama menjadi Kelas Literasi. Beberapa tema yang pernah dilakukan adalah: Membahas buku Pramoedya Ananta Toer, membahas media cetak, daring, dan televisi, membahas cerpen, membahas bagaimana membuat tulisan reportase, membahas blog masing-masing para peserta, dan masih banyak lagi.

Tak hanya pasang surut peserta, tempat untuk menyelenggarakan kegiatan ini pun tak sebatas hanya di Kedai Preanger (base camp Aleut) tapi juga pernah di ruang terbuka kota seperti taman. Taman-taman di Bandung pun banyak yang pernah kami pakai untuk menggelar samak (tikar) dan berbagi diskusi. Seperti Taman Foto, Taman Lansia, Taman Cibeunying, Taman Pers dan taman-taman lainnya.

Berbagi Dalam Diskusi

Dalam kelas literasi ini tak hanya orang-orang yang berminat terhadap dunia membaca dan menulis saja yang diperbolehkan hadir. Kami bebas, bahkan yang hanya ingin sekadar menyimak saja pun kami persilakan.

Banyak manfaat yang dihasilkan di kelas ini. Beberapa di antaranya adalah banyak kawan menjadi lebih kritis dalam menghadapi suatu isu. Selain itu, para peserta juga diharapkan membiasakan untuk mencerna terlebih dahulu wacana yang ada, belajar berbicara dihadapan orang banyak, berargumen atau menyanggah pendapat orang lain, bertukar pikiran, dan lain sebagainya.

Bandung dan Jogja memang menjadi kota yang unik. Jogja si penerbit, dan Bandung yang memiliki populasi komunitas yang banyak dan kuat menjadikan kedua kota ini mempunyai kekhasannya masing-masing. Tulisan ini layaknya kelas literasi yang saya ikuti, memberi dan menularkan semangat berbagi, mencoba untuk terus berdiskusi, dan selalu menjaga konsistensi. [akay]

 

Tulisan ini dimuat di pocer.co edisi 12 Maret 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s