Hembusan Suara

Karena di Sirnaraga Kamu tak Bisa Lagi Mengeluh

akay-di-sirnaraga

Hembusan angin di pagi hari serta merdunya desahan gerimis membasahi Jalan Pajajaran. Aku tak terlalu risau, juga tak perlu mengeluh pada semburat langit pagi yang sudah beberapa hari ini seolah menyuruhku berselimut. Cuaca seperti ini sudah akrab denganku. Ya, pilihannya hanya dua; kalau tidak gelap ya terang. Aku nikmati pagi itu sambil ngobrol dengan kawan di sebelahku, sebut saja si A.

“Wihh sepertinya ada orang meninggal nih. Coba lihat, gerombolan orang-orang itu mendekati kita” ujarku pada si A.

“Mana mana?” Si A menimpali sambil lirik kanan-kiri.

“Oiya ya… singkirkan selimutmu, segera cuci muka agar kau terlihat segar !” Si A memerintah.

“Oke, saat ada yang bergerombol seperti ini, dalam cuaca seperti apapun, kita memang harus terlihat segar,” jawabku.

“Iya iya.” Si A menggerutu sambil sedikit melirik lagi pada rombongan itu.

Aku dan si A saling bertatapan, siap memberikan senyum terbaik bagi gerombolan orang yang tengah menghampiri kami.

Dengan cuaca gerimis di pagi hari dan dinginnya Sirnaraga yang tak bermentari, tak mungkin ada orang-orang yang berniat berziarah. Kecuali ada yang meninggal bukan?” tanyaku pada si A.

Si A mengangguk. Kami senang karena akan ada asupan nutrisi baru yang akan kami peroleh.

Nyatanya, dugaan kami salah. Kami salah menduga karena ternyata gerombolan yang berjalan beriringan itu hanya sekumpulan orang yang dengan berani menembus gerimis dan dinginnya pagi untuk sekadar mencari tahu dan menggali informasi tentang permakaman Sirnaraga, sekaligus berziarah kepada orang-orang atau tokoh-tokoh penting. Tak hanya itu, mereka pun memerhatikan keadaan tempat kami tinggal. Mungkinkah mereka sedang memilih tempat yang cocok untuk kami temani suatu saat nanti?

***

Untungnya berbagai macam pohon serta makam tak bisa bicara, bisa dibayangkan bagaimana jika mereka bisa bicara. Saya rasa mungkin mereka akan saling mengeluh setiap hari. Ya, mereka bisa mengeluh karena kedinginan, kepanasan, dan hal-hal lainnya yang membuat mereka tak nyaman. Makam yang marah kepada si pohon karena tidak bisa meneduhinya. Atau sebaliknya, si pohon yang marah kepada si makam karena tidak memberikan nutrisi yang cukup untuk si pohon itu sendiri.

Itu baru satu persoalan, belum lagi kalau tangisan makam-makam yang disebabkan karena mereka tak pernah disambangi oleh sanak famili. Jangankan seminggu sekali, setahun sekali di saat hari raya Idul Fitri pun mereka tak ditengoki. Si pohon terganggu, si makam terus menunggu.

Saya tak memiliki sanak keluarga yang dimakamkan di Sirnaraga. Tentu itu bukan berarti saya tidak boleh menengok makam-makam yang berada di sana. Permakaman yang berada di dekat bandara Husein Sastranegara ini, walaupun berada di tengah kota, nyatanya hanya ramai di saat-saat tertentu. Saat Idul Fitri salah satunya. Saya yang menyambangi permakaman ini di hari Minggu, 12 Februari 2017 beserta kawan-kawan dari Komunitas Aleut, bertujuan untuk menggali informasi dan mencoba peka terhadap orang-orang atau tokoh-tokoh yang cukup penting yang dimakamkan di sini. Di mana letak makamnya, atau bagaimana kondisi makamnya saat ini.

Saya dan kawan-kawan masuk ke permakaman ini melalui pintu 1, perlu diketahui bahwa akses masuk ke permakaman yang mempunyai luas sekitar 26 hektar ini memiliki beberapa pintu masuk. Nah, pintu masuk 1 ini berada tidak jauh dengan pintu masuk 2 yang berada di sekitar Jalan Pajajaran.

Makam Gatot Mangkoepradja yang tidak jauh dari pintu masuk 1 membuat saya kembali mengingat perjuangannya kala bersama Sukarno. Kami sedikit berdiskusi kecil setelah melihat makam beliau. Setelah itu, kami melanjutkan untuk berkunjung ke makam Soeratin. Di makam Soeratin ini ingatan saya dibuat berimajinasi akan perjuangannya mendirikan PSSI. Ya, beliau adalah pendiri dan ketua PSSI pertama.

Bapak Alan, salah satu penjaga makam di Sirnaraga yang sedang membersihkan rumput sempat saya wawancarai. Menurutnya, makam Soeratin ini ramai dikunjungi oleh orang-orang penting jika ulang tahun PSSI atau ulang tahun Soeratin saja. Di luar itu, mereka, orang-orang penting itu atau para petinggi PSSI itu tak pernah menziarahi makam ini.

Setelah mendatangi makam Soeratin, kami mulai mendatangi makam-makam lainnya. Dari Milica Adjie sampai sosok Poppy Mercury kami datangi. Selain itu, kami juga ngobrol dengan warga sekitar saat kami berteduh karena hujan yang tak kunjung reda. Obrolan saya dan kawan-kawan dengan warga sekitar itu mencakup banyak hal: dari mulai pertanyaan luas permakaman, siapa saja tokoh tokoh yang dikubur di permakaman, sampai pertanyaan seberapa sering daerah situ terkena banjir. Obrolan saya dengan warga sekitar itu saya lakukan di pinggir sungai Ci Tepus.

Mengunjungi permakaman Sirnaraga ini mengingatkan saya pada kematian. Kelak saya akan seperti pohon itu, saya akan seperti makam itu. Yang tak lagi bisa bicara, yang tak lagi bisa mengeluh.

 

Catatan: Tulisan ini dimuat pertama kali secara lengkap di komunitasaleut.com

Foto: Nurul Fathimah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s