Tercurah Kata

Sebab Kita Tak Boleh Salah Alamat

coloured-map-design_1268-226

1

Nicholas Saputra sedang menyamar, lalu berkata pada seorang perempuan yang baru saja dia kenali di depan bioskop secara tak sengaja, kira-kira kalau saya tak salah ingat bunyinya seperti ini “pekerjaan antar mengantar adalah bentuk dasar dari semua bentuk silaturahmi, karena sifatnya menghubung-hubungkan orang.” Beberapa hari ke belakang Nicholas Saputra yang saat itu sedang menyamar menjadi laki-laki yang masih kuliah dan bekerja secara part time tiba-tiba saja merasuki tubuhku. Entah kenapa mesti aku? Padahal di luaran sana, masih banyak orang yang pantas untuk dirasuki Nicholas Saputra. Atau mungkin, Nicholas Saputra ini tahu betul kalau hanya akulah yang semestinya dia rasuki, bukan orang lain. Joni, begitu nama samaran yang dia pakai. Joni merasukiku. Seenggaknya sebagai pengantar barang. Tubuhku tiba-tiba saja dibawa ke pelosok perbatasan antara Bandung dan Cimahi, bernama Cijerah. Aku dibawa oleh Joni untuk mengantarkan sebuah buku. Aku tahu sekarang, tujuan Joni merasuki tubuh ini untuk menunjukkan kalau ternyata menjadi pengantar itu gampang-gampang susah. Di zaman serba canggih seperti sekarang, bisa saja aku membuka google map. Urusan selesai, barang pun akan cepat sampai. Nyatanya, teknologi tak melulu membantu, malah terkadang menyesatkan. Teknologi, yang baru kukenal di medio 2000-an ini seperti menganggapku sebagai bocah ingusan yang baru mengenal cinta. Tak jarang aku dibodohinya. Seperti  saat itu, saat aku hendak mengirimkan buku, aku hampir dibodohinya. Namun akhirnya aku sampai juga.  Setelah sampai di daerah tujuan, kebingungan justru malah nampak sangat jelas. Joni sengaja nggak membantuku, mungkia dia ingin aku tahu kalau pekerjaan antar-mengantar barang tak melulu mudah. Kadang ada kendala. Apalagi kalau disuruh mencari alamat di perumahan yang cukup padat dengan cuaca yang sudah nampak gelap. Selain mengandalkan feeling, bertanya menjadi alternatif yang harus dipilih walaupun kadang yang ditanyai malah menyesatkan untuk terus berputar-putar di jalanan yang sama. Tapi memang, seperti Joni, aku juga harus menyelesaikan misi. Leganya minta ampun saat aku berada di depan rumah sang penerima buku. Dengan mukena yang belum dicopot, perempuan berparas ayu itu membalas senyumku dengan begitu tulus. Aku senang, dia senang, dan Joni pun senang. Kick starter motor ku nyalakan. Saat hendak pergi, sebuah motor matic tiba-tiba datang dari belakang dan berhenti tepat di pinggir motor tuaku.

“A mau tanya, tau alamat Perumnas Cijerah II no 52?”

“Duh maaf, aku juga dari tadi muter-muter nyari alamat, ini baru ketemu. Coba ke belakang, tadi sih perasaan sempet liat nomor 52.”

“Oke a, hehehe sama-sama ngirim pesanan yah kalau begitu” Dia menyalakan starter motornya, sebelum benar-benar pergi dia sedikit berteriak “Makasih a”

Aku mengangguk, sebagai sesama pengantar pesanan orang lain, aku berkata kepada orang tadi, juga kepada Joni. Seberapa rumitpun, pesanan yang akan kita sampaikan kepada si pemesan haruslah sampai, jangan sampai malah keterima pada tangan orang lain. Sebab kita tak boleh salah alamat.

2

Di daerah yang rimbun, di mana dua orang murid yang saling menyukai namun malu-malu untuk saling mengungkapkan  sedang berboncengan, si cowok mengendarai Honda CB 100. Si cewek memeluk erat si cowok di Jalan Buah Batu. Rambut si cewek yang panjang kadang digoyang-goyang angin, kadang pula dijatuhi dedauanan. Tapi itu dulu, saat si cowok masih sekolah. Daerah Buah Batu memang menghadirkan kenangan untuk sebagian orang. Buah Batu adalah monumen, yang merangkum hak dasar semua orang untuk merasa rindu bagi yang pernah bersamanya, bagi yang pernah mengalaminya. Selain karena curug ece-nya, Buah Batu juga membuat beberapa orang penasaran. Pernah ada perempuan jauh dari Tangerang sana bela-belain ingin merasakan suasana Jalan Buah Batu hanya karena membayangkan dan merasa pikirannya terganggu oleh sebuah novel yang katanya bikin baper. Ada juga orang yang muter-muter tak jelas di sekitar Buah Batu untuk menanyakan alamat yang bertujuan sebuah kedai bernama Preanger, eh malah diarahkan ke arah Jalan Reog menuju TSM. Beberapa minggu lalau, masih di Buah Batu, seorang perempuan tomboy nanggung yang katanya jago mengendarai motor tengah mengikuti diskusi bersama beberapa kawannya. Dia mulai membuka laptop seorang kawannya, hendak membuka beberapa media daring yang tengah jadi bahasan diskusi. Tak disangka, ia malah membuka web tak berpenghuni yang bisa saja mengarah ke situs bokep. Terang saja, di dunia daring, salah mengetikkan satu huruf adalah kesalahan besar. Ia yang hendak membuka situs mojok.co, entah disengaja atau tidak malah menuliskan mojok.com. Berselancar di internet memang harus berhati-hati, satu huruf sangat berpengaruh. Bisa-bisa kita malah salah alamat dan justru masuk ke situs-situs “berbahaya”. Itulah mengapa kita diharuskan teliti sebelum menekan tombol enter. Sebab kita tak boleh salah alamat.

3

Maya putus asa ketika ditinggalkan kekasihnya tepat pada malam sebelum mereka menikah. Lebih menyakitkan, lelakinya pergi meninggalkan untuk seorang perempuan yang sangat ia kenal. Eka Kurniawan bercerita secara tak langsung padaku, dan dari ceritanya itu dia seolah memperingatkanku yang intinya  adalah “berhati-hatilah dalam memilih pasangan”. Peringatan Eka kepadaku sebenarnya sangat terlambat, harusnya aku bertemu dengannya dari dulu. Agar aku tak memiliki alumni hati sebanyak ini, tapi apalah artinya sebuah penyesalan. Nyatanya, perkenalan dengan Eka yang baru sebentar ini pun terbukti membuat kehati-hatianku dalam memilih pasangan semakin menjadi. Di usiaku yang setengah abadi lebih ini, aku tak mau lagi mengoleksi mantan pacar untuk sekedar dibanggakan kepada kawan-kawanku. Belajar dari peringatan yang Eka kasih kepadaku, banyak hal-hal nekad yang bisa membuat seseorang melakukan hal-hal di luar nalarnya karena salah memilih pasangan. Atau yang paling nyata adalah umpatan-umpatan kecil di sosial media sebagai pelampiasan kekesalan kepada mantannya. Seperti kawanku, Didong. Aku masih ingat ketika dia memosting kekesalannya di twitter tak lama setelah dia diputuskan secara sepihak oleh pacarnya.

“Aku mending mengemis di jalanan, karena pasti masih ada yang memberi. Karena kalau mengemis cinta darimu, cuma bikin sakit hati.”

Aku lihat, 4 orang meretweet postingan Didong tadi, aku yakin, 4 orang itu adalah orang yang sedang mengalami perasaan atau permasalahan yang sama atau hampir sama dengan Didong. Belum lama postingan Didong hadir di timelineku, dia kembali memosting kicauan bernada sama kesalnya seperti yang dia kicaukan sebelumnya.

“Sakit hati gua. Gua cuma bisa diem. Ngikhlasin semuanya. Yang terpenting sekarang gua tau. Gimana orang itu sebenarnya.”

Aku yang masih ingat dengan peringatan Eka tak mengubris atau sekedar membalas kicauannya. Sebelum tidur, channel radio berfrekuensi 105,9 memutar lagu senandung maaf-nya White Shoes And The Couple Company. Ya, dalam urusan asmara sekalipun aku harus pintar-pintar mencari orang yang tepat. Sebab Kita Tak Boleh Salah Alamat.

 

 

Image source: freepik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s