Hembusan Suara · Kelas Literasi

Jangan Istirahat, Wahai Kata-Kata!

affc606f-07f1-4d6a-9148-d76dcb2e4cac

Sabtu lalu saya mengikuti Kelas Literasi bertema media daring yang digagas oleh Komunitas Aleut dan Pustaka Preanger. Kelas ini menjadi medium belajar untuk mendekatkan saya akan dunia membaca, menulis, dan mendengarkan serta menyimak berbagai tema yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk tema Sabtu itu sendiri yaitu media daring, tema media daring ini diambil karena dilatarbelakangi oleh mulai ramainya media berbasis internet yang mulai berseliweran akhir-akhir ini. Sampai kadang-kadang kita dibuat bingung untuk memilih media daring seperti apa yang cocok untuk kita. Apakah dari tema dan dari isi beritanya yang tajam? Atau sekadar dari kecepatan beritanya saja?

Media daring seyogyanya memberikan angin segar untuk beberapa penulis pemula. Dengan ketentuan yang tidak terlalu ketat seperti di media cetak, media daring ini hadir sebagai media alternatif untuk menyalurkan dan menyampaikan tulisan-tulisan penulis awam seperti saya. Selain itu, dengan banyaknya media daring dewasa ini, kita juga belajar mengenali karakternya, mengenal susunan redaksinya, termasuk mengenali para kontributornya, dan lain sebagainya.

Nah, dari beberapa media daring yang didiskusikan di kelas itu, saya memilih mojok.co untuk saya bahas dan didiskusikan. Semenjak saya gabung dan mengaku menjadi jamaah mojokiyyah, saya mulai rajin baca-baca tiap tulisan yang dimuat. Dari yang terasa “berat” sampai yang menurut saya enak untuk dikunyah karena tulisannya yang renyah. Dari beberapa penulis yang menurut saya selalu renyah untuk dikunyah salah satunya adalah tulisan-tulisan kontributor berparas Nyunda kayak si Nurjanah, ini salah dua contoh tulisannya Betapa Ribetnya Nama Anak-Anak Masa Kini dan Terpujilah Wahai Engkau Penemu Seblak dan Cuanki. Dia menjadi penulis favorit saya di mojok itu, kecup basah untuk kamu. Mmmuuaccchh…

Balik lagi ke kelas tadi, kawan-kawan saya yang lain tentunya sudah siap dengan media daring lainnya yang akan dibahas dan diskusikan. Jangan tanya bagaimana kami berargumen, dari mulai adu bau baham (beradu bau mulut dalam arti sesungguhnya hahaha), tidak memotong pembicaraan seenak jidat, sampai diskusi mengenai mengapa domain .co mulai lebih populer dibanding .com, sampai berdiskusi dari A sampai Z. Wealaaahh…

Tentu saya punya alasan tersendiri mengapa saya mulai menjadi followers mojok, sosmednya saya ikuti semua, terutama twitter. Saya selalu stay di timeline twitter mojok, termasuk saat sang tulisan si kepala suku Phutut EA tampil di timeline dengan judul Film Sunyi Sepenggal Kisah Wiji Thukul Kamis kemarin, tepat di peluncuran pertama film Istirahatlah Kata-Kata. Walaupun postingannya sudah lumayan lama, September 2016, sebagai pengikut yang taat sudah sewajarnya saya retweet.

Postingan sang kepala suku itu seolah mengingatkan saya dengan grup Whatsapp di android saya yang mulai ramai sejak malam dengan tema film Istirahatlah Kata-Kata ini, juga rencana nonton bareng film itu. Tentu saja rasa penasaran saya pada sosok Wiji Thukul semakin tinggi. Karena jujur saja, saya tak terlalu mengenal sosok Wiji Thukul. Karena penasaran sampai-sampai saya mulai yahooing, eh googling dan mencari tahu sosok mengenai Wiji Thukul sebelum menonton premier film tersebut.

Berbagai pertanyaan muncul setelahnya. Bagaimana sebenarnya perjuangan dan semangat seorang Wiji Thukul ini sampai bisa difilmkan di 16 bioskop. Yang saya tahu dari seorang bernama Wiji Thukul adalah seseorang yang hilang atau dihilangkan gara-gara puisi-puisinya yang membuat geram pemerintah orde baru. Itu saja, tak lebih. Maklum, saya anak kemarin sore.

Saya tak akan menceritakan terlalu banyak isi film ini, lah wong saya bukan penikmat film sejati yang kalau ada film baru harus nonton buru-buru. Lagian kalau saya cerita dengan runut dari awal, tengah, sampai akhir bisa-bisa saya dihujat followers saya, lalu mereka pada unfollow saya. Yasalaaam… Jangan sampai demikian. Ngasih tau aja yah, ngumpulin 300 folowers aja saya butuh waktu tiga tahun. Artinya satu tahun 100 followers. Huffttt….

Kejadian lainnya yang membuktikan kalau saya bukan penikmat film sejati adalah; beberapa kali saya menonton di bioskop bergerombol bersama kawan-kawan dan tak jarang saya selalu dibangunkan saat film telah usai. Maka saat kemarin saya nggak ketiduran dan menonton sampai beres dengan mata tetap terbuka, itu cukup membuktikan jika saya cukup antusias pada film ini. Baru kali ini juga saya menonton premier suatu film di bioskop, padahal biasanya paling banter setelah 4-6 hari tayang baru saya nonton, itupun saat saya masih punya pacar yang kebetulan doyan banget nonton di bioskop.

Nah, tiba di Ciwalk XXI orang-orang yang akan menonton Istirahatlah Kata-Kata sudah bisa saya tebak. Bergerombol, kadang dari setiap gerombolan itu terselip pemuda berambut gondrong, dan yang paling kelihatan kalau mereka bakalan nonton film Istirahatlah Kata-Kata adalah tentengan leaflet kecil di tangannya. Eh, nggak hanya itu deng, beberapa perempuan memikat yang tak didampingi pasangannya atau mungkin tak punya pasangan(?) juga beberapa kali saya temukan sedang membaca leaflet dipojokkan sambil nunggu film diputar. Entahlah, saya nggak punya keberanian buat menyapa perempuan terlebih dahulu, apalagi yang sedang baca-baca kek gitu. Ntar-ntar layau…

Film selesai, saya yang duduk di Kursi E9 tak langsung beranjak. Begitupun kebanyakan orang yang ada di studio itu. Sepertinya mereka mencoba mencerna keseluruhan isi film. Wiji Thukul yang mereka kenal itu, atau mungkin yang baru mereka kenal setelah menonton film itu, ternyata adalah manusia biasa yang, sama halnya dengan kita: cinta keluarga, sering khawatir, dan diselimuti rasa was-was tak berkeseduhan. Namun dengan konteks yang sedikit berbeda. Saya kok jadi kepikiran gimana tertindasnya Wiji Thukul saat itu: nggak punya kebebasan, sulit mendapatkan ruang privat, dan tertekan sana sini hanya karena kumpulan kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa untuk menyuarakan keadilan dan menularkan semangat demokrasi. Terus aing piye?

Aing yang hidup dalam serba kebebasan, sampai-sampai kadang lupa batasan apakah yang saya lakukan sudah melewati garis kebebasan atau belum, bisa dengan santai mengepulkan asap rokok, menyeruput secangkir kopi, dan berargumen juga bersilang pendapat tanpa bisik-bisikan, tanpa takut akan digerebek dan dihilangkan.

Di luar isi film, film ini memberikan contoh kepada masyarakat sekarang, bahwa ada orang “biasa” yang sekolah SMA pun nggak lulus, akan tetapi mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat banyak dan berkorban banyak untuk bangsanya. Warbyasa!

Menurut saya, kebebasan berpendapat pada kelas Literasi dengan tema media daring yang kami lakukan Sabtu kemarin, dengan segala argument yang berseliweran itu, yang  ditemani kopi dan kepulan asap rokok itu, di sebuah Kedai sederhana itu, salah satunya bisa terjadi karena perjuangan Wiji Thukul. Maka, bentuk kecil seperti diskusi-diskusi macam ini merupakan pertanda dan keinginan pribadi, bahwa kata-kata janganlah beristirahat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s