Cerpen

Kamar Idaman

bedroom-in-3d-style_23-2147525804

“Satu-satunya mimpi indah yang pernah Jaka alami adalah bersenggama dengan artis idamannya”

 

Laptop yang baru lunas sebulan yang lalu dikemasnya dengan hati-hati, tulisan yang hendak ia kirim untuk media online tak jadi dirampungkan dengan alasan suasana rumah yang tidak mendukung.

“Hufftt,,, mood lagi nggak bagus” gumamnya.

Sambil sedikit kesal Jaka membereskan ruang tamu rumahnya yang sekaligus menjadi tempat tidurnya itu.

Jaka melihat adiknya, Utuy, tengah memeluk guling kesayangannya didampingi sang Ibu yang juga tengah pulas, mungkin efek dari rasa lelah setelah seharian menjajakan dagangannya di depan pabrik, tak jauh dari rumah. Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa untuk Jaka, tapi entah kenapa malam itu ia merasa melankolis, ia merasa sedih sekaligus marah dengan keadaan seperti ini yang sudah berlangsung lama.

Lampu ruangan dimatikan, kali ini pikirannya melayang-layang. Ia kembali mengingat keberhasilan teman sekantor yang cerpennya masuk ke dalam “100 Cerpen Terbaik Majalah Konvas”. Jujur, Jaka iri. Tentu saja, Jaka termasuk orang yang mewakili kantornya dalam mengikuti lomba itu.

Selain Jaka, kantornya diwakili juga oleh Zetta, Firsa, dan Dani. Ketiganya adalah kawan baik Jaka. Setelah mengetahui perwakilan kantornya mendapatkan apresiasi dari panitia penyelenggara, direktur tempat mereka bekerja senang bukan kepalang. Lebih-lebih setelah itu cerpennya dibukukan dan berhamburan di seluruh Indonesia. Dari nama-nama ke empat orang perwakilan itu, hanya cerpen Jaka yang tidak masuk 100 besar. Jaka dihinggapi rasa malu, juga kecewa.

Sebelumnya, bukan tanpa alasan kantornya mendelegasikan Jaka dan ketiga kawannya untuk mengikuti lomba itu, orang-orang ini dianggap mewakili dalam hal tulis-menulis. Dengan adanya kesempatan itu, Jaka senang bukan main, ia begitu optimis bisa menjadi juara, padahal nyatanya Jaka gagal.

***

Dari pikirannya yang melayang-layang, Jaka menyoroti satu hal dalam kegagalannya. Ya, dia berpikir kesuksesan kawan-kawannnya beralasan. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai imajinasi yang bagus, berbeda dengan Jaka, daya imajinasi Jaka termasuk jelek. Jika menulis cerpen Jaka hanya mengandalkan pengalaman-pengalaman hidup seseorang, atau pengalaman dirinya sendiri. Sedangkan ketiga kawannya itu, menurut Jaka, mereka hidup dengan imajinasi-imajinasi yang kuat dan liar.

“Arrghhh,,, pantas saja mereka menang, mereka pastinya punya kamar tidur sendiri” Pikiran Jaka tiba-tiba tertuju pada kamar tidur. Ya, Jaka menganggap kegagalannya itu karena ia tak memiliki ruangan privacy, ia sontak membandingkan dengan ketiga kawannya. Jaka beranggapan kawan-kawannya bisa menang karena punya kamar yang bagus dan bikin nyaman, yang tentunya menunjang mereka untuk melakukan ini itu, termasuk berimajinasi. Ini terbukti ketika Jaka beberapa kali menyinggahi kamar Firsa dan Dani ketika Jaka diundang untuk main Pro Evolution Soccer (PES) bareng di kamar mereka. Kamar mereka sungguh bikin ngiri. Sedangkan untuk Zetta, Jaka juga yakin kamar gadis cantik berkerudung ini tentunya begitu nyaman (walaupun Jaka tak pernah ke kamarnya).

Tuduhan Jaka ini karena didasari saat membaca blog kepunyaan Zetta secara tak sengaja. Di blognya, Zetta menceritakan bagaimana dia bisa dengan santai berimajinasi dan berkhayal. Bagaimana hanya dengan modal peta dunia, rebahan Zetta di kasur kamarnya tiba-tiba membawanya bertualang ke Taman Nasional Yellowstone, lalu terbang ke Turki, diteruskan ke Italia, lalu melipir ke Swiss, dan sebelum pulang ke Indonesia Zetta bermeditasi di Nepal.

“Imajinasi macam apa itu? Brengsek, ini semua gara-gara kamar mereka yang nyaman.” Gumamnya.

Jam menunjukkan pukul 23.42. Semakin malam Jaka makin tidak bisa tidur, ia merasa gundah gulana. Rasa kesal masih menyelimuti dirinya, terlebih besok ia akan melihat ketiga kawannya bergembira dan menenteng buku cerpennya itu. Rasa iri makin menggunung. Perasaan malu tak bisa dibendung. Ia sempat berpikir sepertinya ia memang ditakdirkan agar tak usah merasakan mimpi indah seperti kawan-kawannya.

Tak berselang lama, ia tersenyum. “Hmm… Bukankah aku pernah mimpi bersenggama bersama Wulan Guritna, artis idamanku”

Jaka memejamkan mata, pikirannya menuju kamar baru yang baru saja ia tinggali. Kamar berukuran cukup luas itu sudah berisi barang-barang favoritnya: Poster Andriy Shevcenko,  LED TV 32 inch, serta meja dan rak buku. Dari kejauhan, terlihat buku yang cukup tebal berjudul “100 Cerpen Karya Jaka Anugerah” berderet di sudut rak miliknya.

Lagu The Winnings Days-nya The Vines berkumandang  secara halus, sedangkan mata Jaka sudah tertutup, dan malam pun semakin larut. [kay]

 

Photo source: freepik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s