Tercurah Kata

Kapal Menta Duit vs Om Telolet Om vs Dadah Dadah

google

Masa-masa SD adalah masa saya sangat menikmati masa kecil saya. Uucingan dari mulai ucing lumpat, ucing baledog, ucing sumput dan lain sebagainya adalah keseharian saya. Entah itu di sekolah ataupun di rumah. Ketika di sekolah, halaman yang cukup luas seakan selalu menyuruh saya untuk acleng-aclengan.

Kutipan di atas adalah bagian tulisan pengalaman masa kecil saya pada buku yang hendak Komunitas Aleut luncurkan dalam waktu dekat ini; “Memento” – sekumpulan cerita masa kecil. Seorang kawan pernah berkata secara tidak langsung, “Kita cenderung untuk mengingat hanya hal-hal yang kita pikirkan begitu sering atau yang memiliki ikatan emosi – sebuah masalah, sebuah tanggal, sebuah pertemuan. Untuk mengingat momen, mencatat atau mengabadikannya dalam foto adalah upaya paling sering dilakukan manusia.”

Beberapa hari ke belakang, sosmed dihebohkan oleh video bus-bus yang sedang ditunggu oleh sekumpulan anak-anak yang berkerumun (belakangan orang dewasa juga ikut bagian). Mereka disebut “Pemburu Klakson Telolet”. Konon katanya, kejadian ini berawal dari ulah anak SD yang kerap mengejar bus sambil bilang “Om Telolet Om”. Tapi entahlah, saya tak terlalu ingin tahu tentang bagaimana kejadian ini bisa menjadi seviral sekarang. Namun sebenarnya, kejadian seperti ini pernah saya alami juga saat saya masih kecil. Mungkin saat SD, tentunya dengan medium yang berbeda.

Kapal Menta Duit vs Om Telolet Om vs Dadah Dadah

Lupakan sejenak perbandingan antara permainan tempo dulu dengan permainan milenium saat ini. Pada dasarnya anak-anak memang suka bermain, apapun bentuk permainannya. Dari sekian banyak permainan, beberapa bocah laki-laki menganggap ngala tutut di sawah pun juga sebagai bentuk bermain yang menyenangkan. Tak terkecuali ketika mereka, bocah-bocah itu ngabring ke tempat-tempat tak bertuju. Yeah… Anak kecil memang paling jago mencari kesenangan dengan cara sederhana.

Di zaman saya seperti mereka, dengan rambut rancung, tak beralaskan sandal, dan kadang-kadang hidung ingsreuk-ingsreukan untuk menahan “apollo sebelas”, saya selalu menikmati bermain bersama kawan-kawan di tiap menitnya.

Ya, seperti mereka yang meminta bus membunyikan suara klaksonnya itu dengan teriakkan Om Telolet Om. Hampir serupa, di zaman saya, ketika ada pesawat terbang melintas di atas kepala dengan otomatis saya dan kawan-kawan berteriak “Kapaaaall menta duiiitt…” Entah darimana istilah itu berasal, nyatanya setelah berteriak seperti itu kami lalu saling berpandangan diteruskan dengan tawaan khas bocah.

Pun begitu yang saya rasakan dengan yang terjadi sekarang dengan fenomena Om Telolet Om ini, ketika harga sewa playstation sudah tak bersahabat, ruang bermain yang semakin terbatas, dan harga mobil-mobilan semakin tak terkejar, maka kiranya fenomena Om Telolet Om adalah jalan keluar bagi para bocah untuk mencari kesenangan. Nyatanya, mereka berhasil. Bahkan sampai mendunia dengan bantuan teknologi.

Selain Kapal dan Bus, yang dalam hal ini menjadi medium kesenangan bocah-bocah, masih ada Kereta Api yang ternyata setali tiga uang. Percis dengan fenomena sekarang. Saya yang sejak kecil selalu berada di pinggiran rel kereta tentunya tahu betul kesenangan yang dirasakan ketika kereta api melintas melewati rumah. “Dadah,,, dadah,,,” Ya, dadah dadah (melambaikan tangan) pada Kereta Api yang sedang berjalan merupakan kesenangan tersendiri saat itu. Sama percis dengan Kapal Menta Duit dan Om Telolet Om.

Iklan

2 thoughts on “Kapal Menta Duit vs Om Telolet Om vs Dadah Dadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s