Hembusan Suara

Jangan Buat Saya Menyukaimu, Apalagi Sampai Mencintaimu, Arif!

whatsapp-image-2016-12-20-at-00-46-05

 

Anjiiing!!!

Maaf saya berkata kasar, tapi itulah bentuk rasa iri saya setelah melihat dan membaca setiap kali dia memposting  tulisan baru. Lalu tak berapa lama, berseliweran cuapan-cuapan tentang postingannya yang tak lain merupakan komentar-komentar dari perempuan-perempuan cantik, juga para laki-laki ganteng. Isi komentarnya beragam, dari yang “woow tulisannya bagus” sampai pada komentar yang “sayang sekali tulisannya terlalu banyak kutipan-kutipan”. Ini bikin saya iri tanpa dengki, ini membuat saya ingin selalu meningkatkan kualitas diri.

Arif, begitu namanya, karena orang Sunda dia selalu menulisnya menjadi Arip atau Aip. Walaupun sama-sama “bermarga” Abdurahman, tapi kami jelas berbeda. Saya tipe yang optimis, sebaliknya – masih menurut saya – Arif cenderung pesimis. Dari optimis dan pesimis itu, bisa dijabarkan ketika ada perbandingan atau pertanyaan “siapa yang lebih ganteng jika dilihat dari wajah?” Tentu saya yang optimis akan bilang saya lebih rupawan darinya, sedangkan kalian pasti tahu jawaban seorang pesimis jika ditanyai hal serupa; “iya, saya akui dia lebih ganteng daripada saya.” Sudah pasti itu yang keluar dari mulutnya.

Perbedaan lainnya dari kami  mungkin tentang birahi. Saya yang menggebu-gebu, terobsesi dengan perempuan bernama Eka, dan selalu berapi-api jika obrolan mengarah pada cerita-cerita cinta. Sedangkan dia, untuk urusan cinta, begitu nyaris tak terdengar hingar-bingarnya. Kecuali tragedi jatuhnya dia dengan perempuan bernama Nia saat momotoran perdananya menuju daerah Ciwidey. Selain itu?

Namun sebaliknya, untuk urusan baca-membaca dan tulis-menulis, dia seolah-olah jauh berlari meninggalkan saya. Saat saya masih berada di Asia Tenggara, dia sudah menaiki pesawat melewati Samudera Pasifik menuju Amerika Latin untuk bertemu Roberto Bolano. Saya lalu membayangkan Arif sebagai Enrique Vila-Matas dan merasa tak lagi sendirian sebagai penulis.

Mungkin satu lagi yang menjadi penegas perbedaan kami, di saat saya masih suka buka pornhub, dia lebih sering bikin hashtag #bookporn. Hahaha.

tweet-aip

Mungkinkah karena prinsip, seperti tweet yang dia unggah tanggal 18 Desember itu yang menjadikan dia sampai sekarang menyendiri? Dia tak mengumbar kisah asmaranya di berbagai sosmed dan tak mau dibilang sombong. Atau dia tak berani mendekati perempuan-perempuan karena sebelum didekati, sang perempuan sudah menampilkan gestur penolakan? Benar-benar seorang yang pesimis sekali Anda ini.

Adakah yang lebih seksi dari seorang gadis cerdas yang kerap mengumbar senyuman dan sama-sama menyukai buku yang kau favoritkan?

Ataukah karena sebuah cita-cita, memiliki perempuan yang cerdas penuh senyum dan sesama penyuka Eka Kurniawan atau Haruki Murakami, misalnya? Entahlah.

Saya sempat mengecap dia sebagai tukang tulas-tulis yang menganut paham ke Utuy-Utuyan. Pertama mengenal sosoknya, tak terlihat istimewa. Walaupun kerap berbaur, secara individu dia cenderung penyendiri, namun setelah saya perhatikan, di balik sikap-sikapnya itu dia selalu menangkap sesuatu dalam suatu obrolan atau pada saat berkumpul di suatu forum, lalu tak jarang dia tuangkan dalam tulisan. Satu kelebihan yang belum saya punyai.

Dibalik sikap pesimisnya itu, beberapa hari yang lalu saya sempat stalking blognya, walaupun tak semua dibaca, tulisan dari tahun ke tahun seorang Abdurahman yang satu ini terlihat jelas merangkak naik, terutama dari segi konten. Jika diibaratkan sebuah tim sepakbola, 2009 adalah tahun berdirinya yeaharip FC. Dengan pemain seadanya, stadion sejadinya, dan dengan bermodal semangat, dari tahun ke tahun yeaharip FC merangkak lalu mencoba untuk naik peringkat, naik kasta, dan promosi ke liga premier. Tentu saja hal ini sudah otomatis menambah jumlah suporter yang mulai menyukainya. Mulailah yeaharip FC digemari oleh suporter-suporter yang mungkin sebelumnya merupakan suporter tim rival.

Bagi saya tulisan-tulisan Arif tahun 2016 sudah agak berat untuk dicerna, justru di awal-awal penulisanlah Arif membuat saya tersenyum. Dari proses 7 tahun ini, bukan hasil akhir yang saya lihat, saya menyoroti dia dalam berproses. Bagaimana tulisan 2009 yang unyu-unyu, menjelang akhir 2016 tulisannya sudah berkelas dan tak saya mengerti.

Sekali lagi proses perkembangan itu membuat saya jatuh hati, belum lagi kalau lihat channel youtubenya. Video dengan editing yang masih kasar jaman dulu sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih halus.

Pernah suatu ketika di kelas Literasi yang diadakan Komunitas Aleut dan Pustaka Preanger dengan tema Pramoedya Ananta Toer, seorang kawan bernama Irfan – salah satu penggagas Kelas Literasi Komunitas Aleut  yang mulai naik daun dengan menjadi moderator antar kota dalam provinsi – bertanya kepada semua peserta Kelas Literasi. “Silakan dari setiap peserta, closing statement dari Kelas Literasi tema Pram kali ini.” Lalu saya menjawab  “Mengenal Pram adalah bagaimana belajar konsistensi”.

Nyatanya selain Pram, Arif berada dekat di tengah-tengah saya, Arif seakan mengajarkan dan menularkan semangat untuk tetap konsisten itu, terutama dalam hal baca tulis.

Tahun memasuki ujungnya. Masih terngiang dalam ingatan ketika tulisan saya di berjudul Abdul Muis menjadi tulisan perdana yang saya posting di blog. Pertama-tama tentu bingung, harus mulai darimana, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkumpul di otak saat hendak menulis. Tapi setelah selesai sampai akhir, seperti habis boker loh, lega dan ngemplong.

Berkaitan dengan membaca dan menulis, dulu saya termasuk yang sering mengunjungi si wangihujan.blogspot.co.id, namun karena sekarang kurang begitu update, saya jarang singgah lagi. Dan saya kira untuk teman-teman yang mempunyai minat dalam hal menulis (apapun) di blog tapi belum memiliki nama yang bagus untuk dipakai, saya kira masih ada beberapa nama blog yang cukup unik untuk dipakai sebelum nanti digunakan oleh orang lain, misalnya: hamatakbisabereneng.wordpress.com atau redboyjazzmedia.blogspot.co.id. Bagaimana, unik bukan?

Terakhir, saya termasuk orang yang jarang suka dengan laki-laki, jangan sampai saya ngefans dengan sesama Abdurahman. Saya cukup ngefans sama Fitri Tropica saja, menjadi pengagum suara merdunya Akay Alisano, dan pencinta Persib sampai mati. Cukup.

Jika kata kasar saya awali di tulisan ini, maka dengan sedikit halus saya tutup tulisan ini dengan sedikit penekanan.

JANGAN BUAT SAYA MENYUKAIMU, APALAGI SAMPAI MENCINTAIMU, ARIF!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s