Cerpen

Si Kabayan Ngilu Lomba

kabayan
Pict: http://www.google.com

Nyi Iteung heran, setelah mencuci baju dan menjemur pakaian, dia tidak mendengar suara ngorok Kabayan di kamarnya. Padahal biasanya wanci haneut moyan seperti ini suara ngorok Kabayan sedang merdu-merdunya. Bukan, bukan pendapat Nyi Iteung, itu adalah pendapat bangkong sawah yang biasanya menemani Nyi Iteung ketika Nyi Iteung sedang menjemur pakaian.

Kreeek… Nyi Iteung membuka pintu kamarnya. “Hmmm… kamana Si Kabayan?” Nyi Iteung heran. Penasaran dengan keanehan pagi itu, Nyi Iteung bergegas ke dapur. Lagi, dia tidak mendapati Kabayan di ruangan yang penuh dengan kayu bakar tersebut. Ketika hendak bergegas ke halaman depan, ia dikagetkan oleh sosok yang tak asing, namun dengan penampilan yang membuat dia pangling.

“Neangan saha, Nyi Iteung?”

Ya Alloh Ya Robbi,,, hariwang popoyan poe ieu moal galaring ieu mah, aya angin naon Kabayan, isuk-isuk asa geus bararesih kitu

“Nya… nya… aing mah, kieu salah, kitu salah. Kudu kumaha? Cikan anggur mah urang aya kadaek teh lainna didukung”

“Kela,,, kela,,, atuda teu biasana. Bade kamana Kabayan teh? Isuk-isuk geus mencrang kitu”

“Kamari peuting si Asep ngajak ka Kota, cenah mah manehna dek ngilu lomba nulis. Ngobrol ngalor-ngidul, terus uing menta ngilu ka si Asep. Nya didaftarkeun lah ku si Asep.”

“Emang bisa nulis?”

“Henteu sih. Tapi lumayan, ceuk si Asep aya dahar ngeunah gratis, terus meunang duit transport oge. Lumayan kan? Kali-kali mah Kabayan oge hayang dahar enak atuh”

“Ih, Si Kabayan mah, angguran ngilu jeung si Karyamin tuh ngala batu. Ngadon so-soan ngilu lomba nulis, yeuh nya Iteung mah yakin ari kanu pemeunangeun mah maneh teh jauh. Iteung mah nitip weh, eta dahareun ngeunahna agehan, bawa ka imah. Sakalian jeung duit transportna.”

“Huhuhu maneh mah, Kabayan indit heula ah, Si Asep geus nungguan di gang. Mun si abah neangan, bejakeun weh keur jeung si Karyamin”

Di depan gang, Asep sudah menunggu. Keduanya terlihat antusias mengikuti lomba nulis ini, suara knalpot Astrea Legenda tahun 2000 milik Asep melaju bersahutan dengan suara bangkong sawah, lantas lenyap begitu saja.

 

***

 

Kabayan masuk lift dengan mimik wajah ketakutan, di saat bersamaan telunjuk Asep menyentuh angka 9. Lift mulai bergerak naik, Kabayan masih dengan gestur penuh ketegangan. Maklum, ini kali pertama dia menaiki lift. Berbeda dengan Asep, walaupun mereka tinggal di Soreang pedalaman yang sedikit jauh dari perkotaan dan hingar bingar suara kendaraan. Asep sudah sering berkunjung ke mall-mall. Tentu saja, ia bekerja di mall di kawasan Kopo. Sedangkan Kabayan, bororaah ka mall, naik lift pun dia baru kali ini. Ya, dia lebih banyak bergelut dengan lumpur, bebegig sawah, dan cacing-cacing tanah. Maka ketika Asep mengajaknya untuk ikutan lomba nulis—lebih kepada nemenin Asepnya sih—Kabayan kegirangan bukan main.

Sep, Sep,,, asa reuwas kieu, lieur euy”

“Hahaha” Asep tak banyak bicara, hanya tertawa penuh kemenangan.

Wajah Kabayan masih kebingungan ketika mereka sampai di ruangan, tempat di mana lomba akan dilaksanakan. Untungnya Asep sedikit sabar dalam menenangkan Kabayan yang sangat jelas terlihat gugup dan merasa aneh di tengah orang banyak.

Sebelum lomba dimulai, Asep mengajak Kabayan ngopi dan menikmati sarapan yang disediakan panitia. Lalu beberapa pemateri menyampikan sepatah dua patah kata dan juga pemaparan penilaian lomba. Asep begitu pede, walaupun dia juga masih terlihat bingung akan menulis apa, tapi dia cukup yakin bisa menjadi juara di lomba kali ini, hal ini beralasan, di desanya (Soreang pedalaman) dia memiliki perpustakaan mini, koleksi buku-bukunya walaupun belum banyak, membantu beberapa warga di desanya membangkitkan minat baca. Kabayan juga pernah ikut baca di perpustakaan milik Asep.

3… 2… 1… Mulaaaaii!!!

Panitia bertubuh molek bernama Nita memberi aba-aba. Lomba pun dimulai. Untuk lomba menulis ini panitia memberikan waktu 90 menit. Setelah gong ditabuh tanda lomba dimulai, para peserta mulai menulis. Dari belakang, Kabayan melihat seseorang dengan wajah menengadah ke arah AC. Terlihat seolah sedang berpikir dan mencari inspirasi dari hembusan udara yang keluar dari alat tersebut.

“Hoaaaamm…. ZzzZZzzzz….”

Di saat hampir semua peserta sedang menulis, mata Kabayan mulai agak berat. Ia tertidur dengan posisi yang lumayan tegap, hanya kepalanya yang bergeser. Kadang ke kanan, kadang ke kiri. Asep yang secara tidak sengaja melihat Kabayan tertidur tidak berusaha membangunkannya. Dia malah tersenyum puas. “Gelooooo” ujarnya sambil melanjutkan menulis.

“Waktu tinggal 30 menit lagi, untuk peserta yang sudah selesai, silakan dikumpulkan karyanya di depan.”

Suara Nita dari depan terdengar cukup keras karena bantuan mix. Kabayan terperangah ketika satu persatu peserta mulai mengumpulkan karyanya. Dia melihat Asep, terlihat kertas di hadapan Asep sudah hampir memenuhi lembar polio. Dia melihat lembar kertas di hadapannya. Hanya Nama peserta, nomor peserta, dan kategori perlombaan yang baru terisi. Anehnya, dia tak lantas langsung mengerjakan tulisan itu, ia malah pergi ke toilet, entah ngapain. Yang jelas, pernah suatu ketika Kabayan membaca buku berjudul “15 tempat penuh inspirasi” di perpustakaan kecil milik Asep, dan toilet ada di dalamnya. Mungkin itu menjadi alasan Kabayan untuk pergi ke toilet, mencari inspirasi.

Tak lama setelah dari toilet, Kabayan mendapatkan ide. Bukan, bukan di toilet Kabayan mendapatkannya. Ide itu datang justru saat Nita mendatanginya. Pikiran nakalnya memburu dalam imajinasi bebas dalam otaknya.

“20 menit lagi…” Nita mendatangi meja Kabayan, ia dibuat kaget karena Kabayan belum mulai menulis barang satu kata pun. Nita hanya bergumam kecil sambil melihat peserta lainnya, ia mencoba membandingkan pekerjaan Kabayan dengan peserta lainnya.

Nita kembali melihat-lihat pekerjaan peserta lainnya. Dari jarak 2 meter Kabayan melihat pantat gadis seorang panitia itu gutak-gitek. Sama seperti dia saat tertidur tadi. Kiri,,, kanan,,, kiri kanan,,,

“Hmm…” Kabayan menelan ludah. Ia tiba-tiba kepikiran Nyi Iteung, “Teung, andai body-mu jiga si teteh eta, Kabayan pasti betah di imah.” Di saat sedang asyik-asyiknya berkhayal, Asep menyapa Kabayan.

“Heh Kabayan, buru nulis. 20 menit deui”

“Eh, enya-enya… Kalem…”

Kabayan mulai menulis, entah apa yang sedang ia tulis. Sesekali ia menghapus kata-kata yang sudah ditulis. Tak jarang juga ia melamun barang 5 sampai 10 detik. Lalu menulis lagi.

“Waktu habiissssss…” Nita memberikan pengumuman jika waktu lomba sudah selesai. Semua peserta sudah mengumpulkan hasil karyanya ke meja panitia. Tak terkecuali Kabayan, ia berhasil mengumpulkan karyanya 2 menit sebelum Nita berteriak.

 

***

 

Pengumuman pemenang lomba menulis akan diumumkan hari ini. Tidak seperti dua hari lalu, Kabayan kali ini menaiki lift menuju lantai 9 dengan wajah yang santai. Tak terlihat lagi wajah ketakutan dan ketegangan. Justru Asep yang kali ini terlihat tegang. Ia harap-harap cemas menghadapi pengumuman. Jujur saja, Asep sangat berharap ia bisa menjadi pemenang di lomba ini, minimal 10 besar. Ia tak sabar melihat bagaimana ekspresi teman-temannya jika tahu ia menjadi juara lomba menulis. Ia juga tak sabar memosting piala dan sertifikat di sosial media kepunyaanya. Instagram, Path, dan Twitter. Uhhh… orang-orang akan makin menaruh hormat kepadanya.

Dan… Pengumuman pemenang diumumkan.

Tak ada nama Asep di deretan pemenang lomba menulis pada layar proyektor. Pun begitu dengan Kabayan. Keduanya tak ada di daftar pemenang.

“Sebentar… Sebentar… Ada satu pemenang lagi yang akan kami umumkan” Nita mencoba menenangkan para peserta.

Ini di luar kategori yang kami sertakan. Namun dewan juri menilai ada satu cerita yang layak menjadi pemenang. Ini dikarenakan ceritanya yang unik, berbeda, dan original. Walaupun ada beberapa yang kami edit sedikit karena satu dan lain hal, tapi tenang, itu tak mengubah apa yang ingin disampaikan penulis.

Para peserta kembali dibuat tegang, termasuk Asep. Ia masih berharap kalau pemenang itu adalah dirinya. Dan… pemenang untuk kategori tulisan favorite adalah…. hmmm… adalah… atas nama…..

“….KABAYAN….”

Asep yang mendengar nama temannya menjadi juara favorite kaget bukan main, ia menoleh ke arah Kabayan dengan wajah yang sama sekali tidak terkontrol. Mata melotot, mulut menganga, dan tangan menunjuk pada sosok yang ia kenal tak lebih baik darinya.

Nita mengundang Kabayan untuk maju ke atas panggung. Bukannya maju ke arah panggung, Kabayan yang mulai benar-benar mengantuk mangajak Asep untuk segera pulang.

Hayu, Sep, balik. Urang poho aya janji jeung si Karyamin dek ngala batu” Kabayan pergi meninggalkan Asep. Ia lupa tentang makan enak, ia lupa dengan uang transport.

Kela Kabayan, kela, dagoan.” Asep mengejar Kabayan dengan sedikit berlari.

Para peserta, panitia, dan dewan juri, termasuk Nita heran dengan apa yang dilakukan oleh keduanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s