Hembusan Suara

Dari Navicula, Janji Joni, Sampai Instant Messenger Bernama Whatsapp

NAVICULA

Selama kurang lebih 25 tahun saya tinggal di Bandung, baru kali ini saya merasakan suasana Bandung yang hampir sama seperti Bali ketika Nyepi; hening, mati, dan tak ada “kehidupan” sama sekali. Padahal ini siang hari loh. Aneh, memang. Kota yang sebelumnya selalu hidup ini tiba-tiba saja tak bernyawa. Percis seperti Bali ketika Hari Raya Nyepi. Kejadian ini saya rasakan di suatu pagi, saat Bandung yang biasanya mulai ramai oleh aktivitas. Saya bingung dan bertanya-tanya “Aneh, ada apa gerangan”?

Saya tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan tadi. Jelas, tak ada yang bisa saya dapati informasi. Suara Desta dan Gina yang biasanya saya dengar di radio tetangga tak terdengar sama sekali. Apakah lagu berjudul “Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti” kepunyaannya Navicula (yang akhir-akhir ini sering saya putar) sudah meracuni Kota Bandung sehingga ikut sepi. Kalau benar begitu, hebat benar Navicula ini. Bisa mengajak Bandung untuk berani “berhenti” juga. Bisnis jadi berhenti, jalan-jalan sepi, lampu-lampu dipadamkan, semua tempat usaha tutup, bahkan dari tadi saya tidak melihat Citilink yang mengaum di atas kepala saya. Apakah Husein Sastranegara juga tutup?

Tapi jujur, ini adalah pengalaman baru buat saya. Baru kali ini saya berangkat kerja dengan suasana di mana Kota Bandung seperti milik saya seorang. Berangkat kerja melewati Jalan Paledang, Maleber, Rajawali, belok ke arah Jl Elang, Jl Jamika, Peta, BKR, Sriwijaya, Soekarno Hatta, dan berakhir di Batununggal. Tak ada orang, tak ada angkot, hanya saya. Inikah yang disebut Robi Navicula tentang cinta dalam diam? Cinta yang perlu berkorban? Di mana Kota Bandung yang sedang lelah mendapat ajakan dari Bali untuk berhenti sejenak dalam aktivitas kota. Sungguh pengalaman baru bagi saya.

Tak lama saya mendengar suara khas dari seorang ibu “Hendiiii… gugah ieuh gugah, subuh heula, tinggali jam”. Saya bangun, melepaskan earphone yang sepertinya selama tidur menempel di telinga. Suara peringatan dari handphone yang menandakan baterai lemah karena “Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti”-nya Navicula ternyata menemani tidur saya selama kurang lebih 6 jam. Ya, saya putar lagu itu secara repeat pada handphone saya sebelum tidur.

JANJI JONI

Aneh rasanya ketika Sabtu siang saya berada di rumah. Biasanya Sabtu siang adalah waktunya saya berkumpul bersama teman-teman di bilangan Buah Batu. Sabtu itu menjadi pengecualian, saya merasa lelah karena pagi harinya harus mengantar sang Ibu ke Soreang. Sabtu Bersama Ibu, sudah oke untuk menyaingi Adhitya Mulya, kata saya dalam hati.

Bantal, guling, dan cuaca Bandung yang sedang gerimis bersekongkol dengan saya saat itu. Setelah nonton acara masak-memasak saya memindahkan channel tv ke acara bertema highlights sepakbola, sebagai seorang yang pernah bercita-cita menjadi pemain sepakbola tentu saja acara ini menjadi acara favorit di saat santai. Dan setelah acara selesai, masih dalam stasiun tv yang sama, wajah ganteng Nicholas Saputra begitu dominan. Janji Joni, ternyata Nicholas Saputra sedang menjadi Joni di Trans 7 saat itu. Saya tak terlalu mengikuti tentang film, termasuk film yang sedang saya tonton itu. Film yang diproduksi tahun 2005 dan baru saya tonton di tahun 2016 adalah bukti sahih kalau saya tidak terlalu mengikuti perfilman. Di luar ketidakpahaman saya tentang film, saya menangkap Janji Joni sebagai film di mana pesan yang ingin disampaikan dari film tersebut nyampe, khususnya kepada saya sebagai penonton.

Ketika menonton saya tidak membayangkan menjadi Nicholas Saputra, atau Mariana Renata sebagai Eka. Saya tidak sebaper itu.

Setelah film selesai, saya lalu di bawa ke Soekarno Hatta 71, tempat saya bekerja dulu. Memanaskan motor, menyusun 4 box kertas A4 yang tiap box berisi 5 rim. Menyusunnya, dan mengantarkannya ke pelanggan.

WHATSAPP

Whatsapp menjadi Instant Messenger yang sering saya gunakan untuk berkomunikasi dengan teman, keluarga, dan tentu saja Eka. Jika saya meng-klasemen-kan posisi Instant Messenger maka posisinya adalah: Whatsapp, Line, BBM. Jangan tanya tentang SMS, dia sedang berada di zona degradasi. Dan semoga Tuhan memaafkan saya atas dosa saya setiap pagi yang pastinya lebih mengutamakan membuka Whatsapp daripada melakukan ritual doa bangun tidur.

Beberapa minggu ke belakang grup Whatsapp saya kembali bertambah, teman-teman STM saya dulu yang sebelumnya berkumpul di BBM kini mulai hijrah ke aplikasi berlogo gagang telepon itu. Meta, si admin yang mengumpulkan teman-teman saya itu beralasan aplikasi ini lebih ringan, alasan lainnya adalah, hanya dengan sisa kuota internet 20 MB seorang temannya masih bisa curhat dari pagi sampai malam.

Tak lama setelah grup whatsapp teman-teman STM itu terbentuk, Cecep, seorang teman yang pernah mengolok-ngolok saya ketika BBM masih berjaya mengirim pesan yang kurang lebih berbunyi “Maneh inget keneh jaman maneh pake Nokia X2 nu OS na symbian?” tanyanya. Saya membalas pesannya dengan cepat, “kenapa emang?”. “Baheula aing ngekeak maneh gara-gara ngan bisa ganti profile picture Whatsapp, aing karek nyadar maneh ternyata visioner.” Saya membalas whatsappnya hanya dengan “Hahahaha…. :D”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s