Hembusan Suara

Sepucuk Suara

graduating-hat

Seorang kepala keluarga dengan dua orang anak yang masih menuntut ilmu, anak sulungnya memasuki tahun kedua di Universitas Gajah Mada, sedangkan si bungsu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan. Tasirun namanya, pekerjaan sehari-hari Tasirun adalah pedagang kerajinan bambu: suling, angklung, gasing, dan mainan anak-anak lainnya. Suling bambu menjadi barang dagangan andalannya, dibanderol dengan harga Rp 10.000 – Rp 15.000. Dia memikul dagangannya dari satu tempat ke tempat lain, sesekali ketika merasa lelah dia mencoba istirahat di tempat yang cukup teduh.

Saya membaca cerita Tasirun tersebut di salah satu kolom di koran harian Pikiran Rakyat edisi Kamis, 13 Oktober 2016. Ketika membaca artikelnya, saya membayangkan tiap tetes keringat Tasirun adalah suatu perjuangan, setiap derap langkahnya adalah bentuk tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga untuk dapat menafkahi keluarganya. Satu yang saya soroti, dengan pekerjaannya menjual barang dagangan berupa kerajinan dari bambu, dia bisa menyekolahkan kedua anaknya, terutama si sulung yang bisa kuliah di Perguruan Negeri.

Pernah suatu ketika di mana setelah pengumuman kelulusan SMK saya ingin sekali malanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi keinginan itu saya urungkan ketika melihat kondisi keuangan keluarga. Saya sadar betul ketika itu dan segera mengubur dalam-dalam keinginan saya untuk kuliah.

Saya baru paham saat ini, dulu saya begitu lemah. Keadaan ekonomi menjadi alasan. Padahal banyak contoh dari teman-teman saya yang masih bisa kuliah walaupun keadaan ekonomi keluarga mereka pas-pasan. Ada yang mengambil kelas karyawan dan mengambil jam perkuliahan malam hari karena pada siang hari mereka bekerja, dengan resiko yang tentu saja sudah mereka sadari; merenggut waktu bermain, bergaul, dan bersosialisasi dengan lingkungan tempat tinggal.

Saya menaruh respect kepada orang-orang yang seperti itu, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan mereka mesti berjuang dua kali lebih keras dari orang-orang yang secara ekonomi berkecukupan, namun tetap mereka jalani.

Kuliah bagi sebagian orang adalah barang mewah. Bersyukurlah kamu yang dapat merasakan masa-masa perkuliahan. Masa yang menurut saya lebih dari sekedar menuntut ilmu (akademis). Di luar itu saya melihat orang-orang yang sempat kuliah mempunyai pergaulan dan wawasan yang luas. Walaupun memang tidak semua, tergantung individu masing-masing. Tapi, sepenglihatan saya, hampir teman-teman saya yang pernah kuliah mempunyai nilai lebih, tentunya bukan sekedar ijazah melainkan nilai-nilai lain; cara berkomunikasi, berani menyanggah pernyataan orang dengan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan, cara mengambil keputusan, dan lain sebagainya.

Saya pernah menemani seorang kawan dekat dalam wisudanya di Sabuga. Dia ditemani keluarga, sahabat, pacar, dan orang-orang terdekatnya. Mereka semua ikut larut dalam momen kebahagiaan. Haru dan derai air mata seorang ibu dan bapak yang terpancar di raut wajahnya, sangat tulus mereka berikan untuk sang anak. Diciuminya kedua pipi kawan saya itu, hmmm… bikin saya iri. Setelah itu mereka mengajak saya dan teman lainnya untuk makan bersama di Punclut, tentunya dengan tawa gembira, dengan senyum yang mengembang, dengan gestur yang penuh dengan kemenangan.

Saya yakin, semua orang tua ingin anaknya mendapatkan yang terbaik. Termasuk dalam pendidikan. Mereka rela berkorban apapun demi pendidikan anaknya, bekerja dua kali lebih keras dengan keringat yang sangat terkuras. Meminjam uang sana sini untuk membayar SPP anaknya, dan usaha-usaha serta perjuangan lainnya yang kadang tidak kita ketahui atau dengan sengaja mereka sembunyikan.

Melihat perjuangan orang tua yang begitu menginginkan anaknya menjadi sarjana mungkin salah satunya bermuara pada satu hal. Kehidupan yang lebih baik. Atau lebih jauhnya, bermanfaat untuk masyarakat. Tasirun adalah salah satu contoh, banyak orang tua yang rela bekerja banting tulang demi pendidikan anaknya.

Beberapa bulan ke belakang kita dihebohkan oleh seorang bernama Raeni, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang mempunyai orangtua bernama Mugiyono, seorang kepala rumah tangga yang berprofesi sebagai tukang becak. Saat wisuda, Raeni di antar sang bapak ke lokasi wisuda menggunakan becak. Sang bapak saat itu merasa bangga karena Raeni menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,96. Ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang seseorang untuk berprestasi.

Lalu, bulan ini, di Tangerang Selatan sana. Seorang kawan kembali mengabari kalau dia akan wisuda. Saya otomatis ingat kepada kejadian-kejadian mengharukan itu. Kali ini, saya tidak bisa datang ke wisudanya. Padahal saya sangat sadar, dalam keterbatasannya bertemu dengannya, ini adalah momen yang sangat pas untuk kasih kejutan kepadanya. Dalam benak saya sempat terpikir untuk datang ke kampusnya dengan tanpa mengabari. Saya datang ke tempat wisudanya. Lalu memberikan bunga dan berfoto bersamanya. Tapi,,, arghhh saya melewatkan momen berharga itu.

Selamat Eka, sekarang kamu telah  bergelar S.Kep. Namun justru menurut saya, inilah titik awal kamu untuk berjalan, untuk benar-benar membaur bersama dengan lingkungan sekitar dengan mengaplikasikan ilmu yang telah kamu peroleh. Amalkan setiap ilmu yang telah kamu peroleh pada orang-orang terdekat, pada lingkungan, dan pada masyarakat.

Suatu ketika saya pernah membuka-buka buku Titik Nol-nya Agustinus Wibowo. Saya belum pernah membacanya, hanya melihat-lihat saja isinya. Namun ketika membuka lembar perlembar buku itu, saya menemukan beberapa kalimat yang distabilo oleh sang pemilik.

Berhentilah membaca aksara-aksara dan berteori panjang lebar. Menceburlah ke jalan, jalanilah jalan, resapilah jalan. Mungkin di sana, di ujung jalan, akan kau temukan sebuah kitab kosong tanpa aksara.

Seperti judul di blog ini, Eka. Melangkahlah kamu untuk menggapai cita-cita, masa depan, dan berguna untuk orang banyak. Melompatlah jika ada lubang dalam perjalananmu, tapi tetap terus hadapi dan jangan sampai mundur. Dan terakhir setelah kau mulai menemukan ritme dalam perjalananmu, cobalah untuk berlari. Berlari menggapai apa yang kau kehendaki.

“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas” Kiranya kutipan Pram ini harus selalu kau ingat, Eka.

Selamat, Ka. Selain telah menjadi sarjana keperawatan, satu pesan saya untukmu, rawatlah selalu senyum keluargamu. 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s