Hembusan Suara

Kabar Untuk Eka dari Capolaga

 

api-unggun

Eka…

Aku sedang berada di daerah Subang, domisilimu dulu sebelum kau hijrah ke arah barat sana. Aku tengah camping gembira bersama Komunitas Aleut. Kami baru saja selesai “merakit” tenda-tenda kecil, dan sekarang aku sedang ngemil makanan ringan yang dipadukan dengan secangkir kopi.

Ingatanku tentangmu datang begitu saja, mungkin karena cuaca yang sejuk, gerimis yang mulai hadir dan Capolaga yang cukup rimbun saat ini membuat khayalanku tentangmu semakin menjadi. Khayalanku ini seharusnya aku buat di hammock sambil menatap langit sore tak berjingga. Tapi aku pikir-pikir lagi, memang seharusnya aku tidak menempatkan diriku dengan keasyikan sendiri. Aku ingin asyik bareng teman-teman di sini, bareng Komunitas Aleut.

Di depanku sekarang, air sungai yang jernih itu sedang bergemuruh. Mereka nampaknya senang dengan kedatangan kami, seolah-olah memanggil-manggil kami untuk segera menyetubuhinya. Padahal, tanpa dipanggil pun kami sudah pasti akan menikmati air sungai itu.

Eka…

Ternyata tidak hanya ketika denganmu saja waktu bergerak begitu cepat. Kali ini, tanpamu, aku merasa waktu berjalan cepat. Terbukti dengan tak terasa langit yang mulai menggelap, menutupi Capolaga dan sekitarnya.

Temanku yang lihai dalam hal masak-memasak sudah siap dengan segala peralatannya. Karena memang, menjelang isya kami berencana untuk botram. Dan kamu harus tahu, Eka. Botram malam ini begitu nikmat. Maaf aku harus jujur, ini lebih nikmat daripada ketika kita makan di Bober diiringi lagu Yura Yunita dulu. Kali ini walaupun dengan lauk pauk khas botram dan tak sampai kenyang, kami merasa cukup. Bukankah sebenarnya itu yang seharusnya kita cari?

Perut telah terisi dan beberapa teman mulai menyiapkan api unggun. Di tengah dinginnya malam, api unggun datang menghangatkan kami. Lalu menjelang tengah malam, kami duduk merapat. Mulai untuk becerita tentang apapun. Bersendau gurau, saling melempar canda tawa dan lain sebagainya.

Eka…

Malam semakin larut, kali ini aku dan teman-teman mulai bercerita dengan lebih intim. Kami bernostalgia, menceritakan masa kecil kami, juga hubungan personal dengan keluarga masing-masing. Sungguh malam ini menjadi malam yang berkesan. Andai kau ada disampingku saat ini, kau pasti akan merasakan hal yang sama. Kami seperti keluarga, bercerita bagaimana hubungan dengan keluarga dari kecil sampai dewasa. Masalah-masalah yang kami hadapai, hingga curhatan-curhatan yang bersifat pribadi.

Berbeda dengan teman-temanku yang lain. Entah kenapa, aku merasa lemah. Aku tak kuasa untuk menceritakan hubungan masa kecilku dengan keluarga. Satu alasanku, aku pasti menangis bila hal-hal sentimental itu aku ceritakan. Maaf.

Eka…

Angin malam ini berhembus dengan mesra. Kekeluargaan kami begitu terasa. Lalu, api unggun malam ini menemaniku sebelum cahaya pagi kembali datang.

Malam kian gelap, rasa kantuk mulai mendatangi kami. Akhirnya kami menuju tenda, menyiapkan sleeping bag dan bersiap untuk tidur agar besok pagi kembali fit. Sebelum tidur aku teringat Cholil di salah satu lirik lagunya “Gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang”.

Eka…

Anggap saja tulisanku ini sebagai pembalasan karena sinyal handphone yang jelek dan tak sempat mengabarimu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s