Hembusan Suara

Nggak Usah Makan Enak di Cafe Atau Restoran, Warteg Lebih Enak Dari Keduanya

Biasanya saya bawa bekal dari rumah untuk disantap ketika jam istirahat. Tapi karena pagi itu tergesa-gesa, saya berniat untuk makan di luar, bukan… bukan di cafe apalagi restoran ternama. Pilihan saya justru jatuh ke warteg dekat tempat saya bekerja.

Sebelumnya saya ucapkan selamat ulang tahun yang ke-2 buat Mojok yang baru beberapa hari ke belakang berulang tahun. Semoga Mojok membalas dengan ucapan selamat pula buat saya karena tulisan pertama saya ini akhirnya bisa dimuat di media yang berslogan “sedikit nakal banyak akal”.

Wiss… wiss… saya mau langsung cerita aja. Ini pengalaman saya di pengujung Agustus loh.

Siang itu, beberapa menit sebelum jam istirahat, saya membuka twitter. Seperti biasa, tak ada mention masuk. Tadinya saya pikir bakalan ada yang mention ngucapin selamat makan siang. Saya mendadak lupa kalau saya single. Yowis.

Eh tapi kekecewaan saya sedikit terobati, akun @mojokdotco dengan baik hati mengingatkan followersnya (termasuk saya) untuk segera melipir ke warung makan terdekat. Selamat siang, yang dr td sudah muter2 kerja, silahkan mamoir ke angkringan atau warung makan terdekat”. Begitu sapanya siang itu. Hih, so-soan perhatian, mana typo lagi. Tapi  ya karena sudah sedikit mengobati kekecewaan (sedikit banget loh ya) akhirnya saya retweet juga. Duh…

Saya sadar, beginilah nasib seorang…. syudahlah

Biasanya saya bawa bekal dari rumah untuk disantap ketika jam istirahat. Tapi karena pagi itu tergesa-gesa, saya berniat untuk makan di luar, bukan… bukan di cafe apalagi restoran ternama. Pilihan saya justru jatuh ke warteg dekat tempat saya bekerja.

Bukan tanpa alasan saya memilih warteg sebagai pilihan tempat santap siang saat itu. Selain jarak yang memang dekat, alasan utama adalah karena tanggal di kalender sudah tua, yang artinya dompet hanya tinggal menyisakan beberapa helai uang. Saya menyebutnya sisa-sisa kehidupan.

Ini kesekian kalinya saya makan di warteg, nggak tau kenapa warteg selalu menawarkan makanan yang cocok untuk lidah saya, ok bolehlah kalian bilang lidah saya ndeso. Tapi selain lidah yang ndeso itu, warteg juga menawarkan hal lain yang mungkin jarang ada di kedai atau cafe ternama, yaitu kebebasan. Loh kok kebebasan?

Begini. Kebebasan yang saya maksud bukan kebebasan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Tapi kebebasan sehabis makan, coba bayangin, makan lahap dengan satu kaki diangkat ke atas kursi, terus habis makan kita bisa dengan santai ngerokok dan asapnya itu dibulet-buletin. Spuuhh… Bebaaaas…

Selain itu, warteg adalah tempat pelarian paling pas ketika kita amat sangat kelaparan. Saya jadi teringat tulisan AGUS MULYADI tahun lalu http://mojok.co/2015/10/berbaik-sangka-kepada-dua-menteri-yang-makan-di-warteg/ tapi semoga setelah tulisan ini si Agus nggak bakalan mention saya lalu bilang kalo makan di warteg itu banyak mudaratnya, seperti yang dia bilang kepada kedua menteri itu di tulisannya. Eh lupa, sekarang yang masih bertahan tinggal satu ya? Tinggal Menteri Tenaga Kerja, Pak Muhammad Hanif Dakhiri ya? Satu lagi, Pak Saleh Husin kan di reshuffle. Hehehe… Lupa.

Sudah sudah, kembali ke… warteg.

Saya memesan sayur tahu, kikil, ditambah perkedel plus sambal tentunya. Nasi yang lumayan banyak membuat saya tersenyum lebar. “Wah, makan kenyang nih” pikir saya. Makan saya cukup lahap, mungkin tak sampai 15 menit saya sudah bisa menghabiskan semua yang ada di piring dengan bersih, kalau mau ngitung paling tinggal 20-an butir nasi berserakan. Hehehe…

Walaupun terkesan basi,  kalimat maka nikmat Tuhan-mu manakah yang kamu dustakan saya ucapkan setelah makan selesai. Beberapa teman yang ikut makan siang menegur dengan ucapan, Lebaaay. Hih, ya terserah saya, yang ngerasain kan saya,,, Bhaaaay…

Saya serahkan satu lembar pecahan lima ribu yang dikombinasikan dengan pecahan duaribu plus seribu. Recehan kepingan 500an berjumlah 3 biji saya serahkan setelahnya, untuk menukarnya dengan sebatang rokok.

Setelah makan siang, kami nggak langsung bergegas kembali ke tempat kerja. Merokok dan sedikit bersendawa sambil bersenda gurau menjadi pilihan mayoritas pelanggan di warteg yang mbak-mbaknya bahenol itu. Kami mulai ngobrol ngalor ngidul, topik yang kami bicarakan bukan tentang isu kenaikan harga rokok. Tapi perihal kebahenolan si mbak penjaga warteg.

Bisa jadi ini karena disebabkan tidak adanya karyawan berjenis kelamin perempuan di tempat kami bekerja. Maka sekalinya melihat perempuan semok dan berpayudara aduhai – walaupun kalau saya amati tak seindah punyanya Ariel Tatum – cukup bisa menjadi pelepas dahaga gairah kami, selain tentunya es teh yang ada di depan saya.

“Kamu lihat, si mbak-mbaknya aduhai banget” Si Yusuf, teman saya berambut tipis berbisik. Tentu saja, jarak kami dengan si mbak-mbak wong cuma sekitar 5 meteran mengharuskan kami berbicara dengan bergerilya. “Sssttt… jangan keras-keras, nanti dia denger” saya menimpali. Otak kami yang memang ternyata bermuatan elektron cabul mulai menebak-nebak. Menebak warna kutang, ukuran payudara, dan tebakan-tebakan lainnya. Astaaagaaaa… Ampuni kami ya Tuhan!

Yusuf yang sedang duduk di warteg, sejenak melepas penat tumpukan pekerjaannya. Padahal saya tahu betul pekerjaannya masih banyak yang harus diselesaikan, dia malah asyik memandang si mbak, matanya terlihat nakal.

“Yaaahh jarang-jarang kita ke sini, kita godain saja dia” katanya. Saya tidak mengiyakan, lebih kepada ingin menjaga kredibilitas sebagai rekan. Padahal, ya Cup Cup. Saya ini toh lebih nakal daripada kamu, timpal saya dalam hati.

Andai kami (eh lebih ke saya pribadi sih) sedang santai tak ada pekerjaan mungkin saya akan berlama-lama di warteg itu. Pesan kopi sachet dulu lah, merokok beberapa batang lagi lah, atau mencoba foto si mbak dari kejauhan. Berlaga seperti paparazzi. Ya itung-itung mendekatkan diri dengan si mbak, sekaligus menambah penghasilan si mbak.

Kalau sudah gini, ya nggak usah makan enak di cafe atau restoran, warteg lebih enak dari keduanya toh. Selain pastinya lebih murah. Hehehe…

 

 

*Tulisan ini sempat saya kirim ke mojok.co seminggu yang lalu, dan mojok tak membalas ucapan selamat yang saya ajukan. Pas saya baca lagi, yaelah tulisan ini emang lebih pantas di sini, di rumahnya. 😀

Iklan

4 thoughts on “Nggak Usah Makan Enak di Cafe Atau Restoran, Warteg Lebih Enak Dari Keduanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s