Sepakbola & Futsal

Marhaban Sepakbola Agustusan!

sheva
Andriy Shevchenko, pemain idola saya dulu. (Photo: pinterest.com)

Bagi saya, bulan Agustus tak ubahnya bulan Ramadan. Bulan yang ditunggu-tunggu, setidaknya bagi saya dan kawan-kawan di rentan usia 10-17 tahunan. Bahkan ketika Agustus belum menampakkan wajahnya, tepatnya ketika Juli hendak pergi, saya dan kawan-kawan sudah bersorak gembira karena melihat beberapa panitia acara Agustusan di kampung kami sudah mulai sibuk membuat gawang dari bambu dengan tali rapia sebagai jaringnya.

Saya yang waktu itu masih duduk di bangku SD begitu antusias melihat moment tersebut. Sekitar satu minggu menjelang kick off, saya bersama kawan lainnya yang masih dalam satu RT menambah porsi latihan dalam rangka mengahadapi kompetisi taunan tersebut. Bukan atas anjuran dari bapak-bapak sekitar, ini kami lakukan secara natural dengan tujuan agar masuk tim utama di level RT. Motivasi dan kemauan dari masing-masing kawan begitu terlihat, bayangkan saja, kami akan dengan bangga memakai seragam sepakbola dengan nomor punggung walaupun tanpa nameset. Bonus lainnya kami akan dielu-elukan oleh tetangga.

Masih terbesit dalam ingatan bagaimana saya yang pada waktu itu mengidolai Andriy Shevchenko sangat mengharapkan nomor punggung 7. Kemungkinan berebut nomor punggung dengan kawan lain tentunya sudah saya sadari. Maka salah satu caranya adalah mendapatkan perhatian para pengurus RT setempat untuk mempercayakannya pada saya. Tentu saja dengan cara menunjukkan kemampuan terbaik. Ya, di kampung saya, pemain dengan kemampuan di atas rata-rata biasanya diberikan kebebasan khusus. Selain berkesempatan menjadi kapten tim, memilih nomor punggung kesukaan juga peluangnya semakin besar tanpa harus rebutan.

Sebelum kompetisi antar RT itu dilaksanakan, saya dan kawan-kawan berlatih di lapangan yang tidak terlalu luas. Kalau sekarang, mungkin luasnya sama seperti ukuran lapang futsal. Dan ketika mendekati kompetisi, bapak-bapak di RT kami mulai sibuk menjaring pemain-pemain yang dirasa kompeten untuk ikut kompetisi. Bapak-bapak ini dengan hebatnya bisa menjadi pelatih dadakan dengan “kontrak” kurang lebih satu bulan. Mereka menyaring pemain sesuai kemampuan. Saat itu, pemain paling jago ditempatkan di posisi striker. Pemain dengan kemampuan biasa ditempatkan di tengah, bek menjadi tempat pemain-pemain yang kurang lihai, sedangkan posisi penjaga gawang adalah pemain dengan kemampuan yang nyaris tanpa skill menangkap bola yang yahud. Mungkin dia ditempatkan hanya untuk sekedar meramaikan.

Asna (Asal Najong) yang dalam bahasa Indonesia berarti asal nendang adalah nama tim pertama saya yang mewakili RT untuk bertanding di kompetisi RW saat itu. Saya terpilih diantara 15 orang lainnya mewakili RT saya, RT 05. Saat itu pertandingan tidak berlangsung sebelas lawan sebelas, kalau tak salah ingat kami bermain 8 lawan 8. Hal ini mungkin dikarenakan karena selain lapang yang dipakai bukan ukuran lapangan bola sebenarnya, usia kami saat itu belum cukup untuk bermain di lapangan dengan ukuran standar. Selain itu, lapangan yang dijadikan venue kompetisi adalah kebun jagung yang tidak sedang dipakai karena sudah panen. Lapangan dirombak sedemikian rupa sehingga menjadi lapangan bola, dengan permukaan yang sangat tidak rata. Ada banyak gumpalan permukaan tanah. Kalau di analogikan, sebelah utara menuju selatan bertekstur menurun, sebaliknya dari selatan ke utara bertekstur menanjak.

Hal itu kemudian menjadi peer bagi bapak-bapak yang menjadi pelatih tim kami. Jangan bayangkan bagaimana bapak pelatih dadakan itu memikirkan formasi dan strategi, kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan. Pertama yang harus dipikirkan oleh pelatih kami adalah, bagaimana caranya tim kami memenangkan pemilihan koin untuk selanjutnya memilih tempat di utara terlebih dahulu yang mana permukaan lapangan terasa lebih menurun untuk mencuri gol di babak pertama. Lalu bertahan di babak kedua karena permukaan tanah yang menanjak. Itu strategi umum di kampung kami saat itu.

Debut saya dimulai di awal Agustus. Saya ingat betul bagaiamana saya diarahkan untuk bermain di lini tengah. Jangan tanya perasaan saya ketika itu. Senang luar biasa, meskipun posisi tersebut bukan posisi favorit saya karena tidak sama dengan pemain idola saya, Shevchenko, tetapi rasa bangga ditonton oleh hampir satu kampung adalah kesenangan tersendiri. Anak-anak, remaja, bapak-bapak, bahkan ibu-ibu dengan dukungan khas warga kampung yang teriakannya melebihi pelatih sendiri. Mereka berteriak mendukung, tapi tak jarang memaki kami. Ketika peluang gol terjadi, teriakan mereka seperti para ultras di luar sana. Nyaring sekali. Tapi ketika kami salah passing, para penonton itu menyoraki kami dengan umpatan-umpatan yang lebih pedas dari bon cabe level 15 sekalipun.

Di akhir kompetisi, Asna, tak menjadi juara. Saya dan kawan-kawan terhenti di fase-fase awal. Saya belum terlalu mengerti saat itu seperti apa format kompetisinya. Satu hal yang saya mengerti saat ini. Bahwa bermain bola Agustusan, seperti yang saya rasakan, adalah tentang kesenangan, dan kebanggaan.

 

*Tulisan ini dibuat bulan lalu, menjelang Hari Kemerdekaan. Sempat saya kirim ke #PanditSharing namun tak dimuat. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s