Jalan-jalan

Si Kuya, Usia Sunset Semangat Sunrise

“Jangan banyak mikir, bos. Kali-kali ajaklah saya ke jalur yang menanjak. Saya masih mampu. Mungkin saya akan sesak, tapi bukankah setelah tanjakan ada turunan?” Itulah yang Si Kuya katakan kepada bosnya pagi itu, kira-kira ketika jarum pendek di jam dinding mengarah ke angka 7.

Si Kuya dibangunkan oleh seseorang bernama Ajay, teman baru yang dia kenal beberapa bulan ke belakang. Mereka sering bertemu di hari Sabtu atau Minggu, kadang-kadang hari Kamis. Pertemanan mereka diawali ketika Si Kuya mengantarkan teman barunya itu ke perempatan Jalan Ahmad Yani – Laswi. Setelahnya, mereka mulai akrab dan tidak malu-malu untuk sekedar bertegur sapa.

Ya, pagi itu seperti biasa Si Kuya menginap di rumah keduanya yang berada di Jalan Solontongan. Rumah keduanya ini berada agak jauh dari rumah utama Si Kuya. Kurang lebih sepuluh kilometer. Di hari Sabtu, Si Kuya sering menginap di rumah keduanya. Rumah pertamanya dia tinggali di saat weekday. Si Kuya tipikal yang setia, tanpa lelah dari Senin sampai Jum’at dia menemani bosnya ke sana ke mari. Selain aktivitas rutin, di hari Minggu si Kuya selalu jalan-jalan. Meskipun hanya jalan-jalan keliling kota. Piknik murah, ujarnya suatu ketika.

Minggu terakhir di bulan Agustus, ketika tahun berada pada angka 2016. Tanpa disangka-sangka dia diajak oleh bosnya saat itu untuk jalan-jalan ke daerah yang tak biasa. Si Kuya kegirangan karena dia akhirnya bisa bergabung dengan teman-temannya, walaupun teman-temannya berumur lebih muda, dia tak merasa minder.

Tak tanggung-tanggung, dia diajak ketiga titik lokasi yang agak jauh dari titik 0 kilometer Kota Bandung. Tjikembang – Kertasari – Situ Cisanti. Tiga lokasi yang biasanya hanya menjadi destinasi teman-teman Si Kuya yang berumur lebih muda. Selain jalan yang agak menanjak -meskipun tanjakannya tak begitu banyak dan curam- tiga lokasi tadi bisa saja membuat Si Kuya kalang kabut untuk sampai di tempat yang dituju. Si Kuya menyadari hal itu, namun tak sedikitpun mengurangi semangatnya untuk tetap pergi.

Tanpa pemanasan seperti biasanya, Si Kuya berangkat dari Solontongan 20 D. Di awal-awal perjalanan dia mencoba memacu lajunya dengan tempo yang sedang. Cuaca Bandung pagi hari yang sedikit ceudeum membuat Si Kuya senang sekaligus khawatir, senang karena itu artinya dia tidak usah membasuh keringat sering-sering. Di sisi lain dia khawatir karena bila hujan mulai turun dia tak punya jas hujan, yang artinya sekujur badannya pastilah kebasahan. Berabe.

Sadar perjalanan kali ini agak jauh, Si Kuya menegur bosnya meminta uang untuk membeli minum. Dia membeli minum di sekitar Jalan Terusan Buah Batu, sebelum pasar  Kordon. Tak berapa lama setelah dia minum, kekhawatiran Si Kuya menjadi nyata, hujan turun, jalanan mulai dibasahi air dari langit dengan tetesan-tetesan yang cukup membuat si Kuya kedinginan. “Brrrrr….” begitu gumamnya. Seolah ingin menjaga kepercayaan si bos yang telah mengajaknya jalan-jalan dengan rute berbeda dari biasanya, dia mencoba kuat. Terus berjalan menuju tempat tujuan. Menyusuri jalan Bojongsoang – Ciparay – Pacet dengan hujan yang terus mengguyur, walaupun bisa dibilang hujan tidak terlalu deras.

Di terminal Ciparay Si Kuya agak terbatuk-batuk, bisa jadi kedinginan. Untungnya ada salah satu temannya yang berada di belakang. Entah siapa namanya, yang jelas perawakannya lumayan kekar, masih muda, stelan hitam, yang menurut kawan Si Kuya yang selalu berstelan putih sih dia tinggal di daerah Sarijadi. Si Kuya hanya sekedar apal beungeut teu apal ngaran. Saat itu Si Kuya yang so kuat dan ingin terlihat tetap jagjag mencoba pura-pura berhenti sejenak. Padahal batuk yang dialaminya sudah ia rasakan ketika dia memasuki Jalan Ciparay. Beruntung temannya yang berasal dari Sarijadi itu dengan solider menemani Si Kuya sampai kembali fit.

Perjalanan dilanjutkan, setelah kejadian memalukan itu, Si Kuya tak mau kembali malu untuk kedua kalinya. Dia tampil lebih segar. Kadang memang benar, di setiap perjalanan, ketika kamu merasa lelah, berhentilah sejenak. Saya harus tahu batasan kemampuan sendiri. Si Kuya mencoba berfilosofi.

Akhirnya sampailah Si Kuya di titik pertama. Dia sampai di Tjikembang. Di sinilah Si Kuya mulai menikmati pemandangan Bandung Selatan yang berbeda dengan pemandangan yang sering dia lihat sehari-hari di kota. Sambil beristirahat, dia mondar-mandir mengamati tanaman kopi. Sebelum tanaman kopi yang berada di Tjikembang ini, dulu tanaman kina merupakan tanaman yang populer di tempat ini. Sekarang hanya tinggal cerita. Tapi dia tak kecewa karena tidak mendapati kina di Tjikembang, mungkin karena terobati oleh tanaman kopi. Dia dengan asyik melepas lelah dengan jalan-jalan santai, mengitari biji kopi yang sedang dijemur, dan bersenda gurau dengan 13-15 temannya. Sesekali dia melihat beberapa teman bosnya yang juga tengah asyik ngobrol dengan petugas di rumah administratur.

Setelah dari Tjikembang, Si Kuya melanjutkan perjalanan ke pabrik teh Kertasari. Dari pinggir jalan terlihat dengan jelas bangunan pabrik yang dibangun pada tahun 1920 itu masih berdiri dengan gagah. Bangunan khas tempo dulu. Si Kuya tak mau ketinggalan untuk berfoto dengan latar bangunan tersebut. Dia berpendapat, usia boleh senja, tapi jiwa mesti muda. Ketika dia meminta Ajay untuk mengabadikannya eehh… bosnya dan juga temannya yang seorang perempuan itu malah ikut nimbrung. Sehingga mau tak mau Si Kuya berfoto bertiga. Dia, bosnya, dan temannya yang seorang perempuan. Entah siapa namanya, Si Kuya nggak mau tau. KZL. Dalam hati Si Kuya berujar “samaruk kasep sateh, bos? ~Hih

Cekreeekk… “sekali lagi, sekali lagi, nggak kerasa” bosnya meminta Ajay untuk mengambil foto untuk kedua kalinya. Cekreeekk… Siip… Si bosnya justru lebih narsis dari Si Kuya, niat berfoto sendiri Si Kuya pun sirna.

Selesai kunjungannya ke pabrik teh Kertasari, Si Kuya melanjutkan ke titik terakhir. Situ Cisanti. Begitu antusias dia pergi ke tempat yang berada di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari ini. Maklum saja, dia baru pertama kali mengunjunginya. Sebelum masuk ke kawasan Situ, di kawasan Cisanti ini terdapat petilasan Dipati Ukur, selain itu terdapat juga 7 mata air di kawasan Situ Cisanti ini. Mata air Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan terakhir adalah mata air Cisanti. Mata air terakhir adalah mata air yang dikunjungi oleh bos Si Kuya, ketika Si Kuya tengah asyik ngobrol dengan teman-teman yang lainnya di luar.

Bersih, jernih, dan terlihat begitu segar. Bos si Kuya dan beberapa temannya sampai-sampai meminum air tersebut, juga membasuhi muka. Beberapa kawan sampai membawa air tersebut untuk dibawa ke rumah. Penjaga mata air Cisanti tersebut sesekali menceritakan asal muasal air tersebut. Beliau bilang kalau air tersebut langsung keluar dari dalam perut bumi, itu yang menyebabkan air begitu jernih. Sesekali beliau menunjukkan  bercak air yang memang terlihat keluar dari bawah ke atas.

Puas dengan jalan-jalan hari itu, Si Kuya kembali pulang. Menyusuri jalan yang sama ketika dia pergi. Lagi, di tengah jalan menuju pulang hujan kembali turun. Kali ini cukup lebat. Dia tak kuasa menahan dingin, entah punya penyakit apa Si Kuya ini. Disebut hiportemia, rasanya terlalu berlebihan. Ia kembali berhenti ketika teman-teman yang lainnya sudah berada jauh di depan. Lagi-lagi untung ada teman yg berasal dari Sarijadi itu yang dengan setia menemani. Cukup ripuh kondisi badan Si Kuya ini ketika hujan. Syukur, hujan hanya turun sampai di kawasan sekitar Ciparay. Hujan berhenti, Si Kuya mulai kembali jagjag. Dia mengejar teman-temannya yang sudah berada di depan. Sial, ketika hendak masuk ke Jalan Terusan Buah Batu, tubuhnya kembali bermasalah. Kali ini dia harus berhenti cukup lama, lagi-lagi temannya si Hitam yang memang dari kejadian pertama sudah menyadari kondisi Si Kuya yang mengkhawatirkan kembali menemaninya. Dia menemani si Kuya sampai dia benar-benar fit. Sempat Si Kuya bertanya pada dirinya sendiri, “ini Si Hitam dari Sarijadi ini emang solider atau kasihan melihat saya ya” begitu gumamnya. Setelah benar-benar fit, dia berlari menghantam jalanan Terusan Buah Batu – Jalan Buah Batu – Jalan Kliningan sampai akhirnya tiba di rumah keduanya, Jalan Solontongan 20-D. Perjuangan.

Si Kuya disambut gerbang Solontongan 20-D. Dia selonjoran. Di akhir ucapan sebelum tidur, dia berkata dengan sedikit memohon dan meminta maaf kepada bosnya dengan bahasa Sunda. “Bos, punteun ieu mah bos. Tong kapok ngajak simkuring jalan-jalan ka daerah jiga tadinya bos nya, jalan-jalan di dalam kota wae mah bosen, tadi mah simkuring loba eureun teh can biasa, awak kurang fit oge, ditambah tadi isuk-isuk teu pemanasan.” Dengan gestur sedikit kecewa si bos mengangguk dan menjawab “Heueuh, sok loba olahraga matakna sateh. Loba nginum vitamin, montong ngider wae berikut teu beubeunangan.” si bos menimpali disertai pemakluman. Si bos sadar, walaupun sudah berusia sunset, semangat Si Kuya tergolong sunrise.

Si kuya tersenyum, sebelum tidur dia berkata dalam hati. Huffttt… perjalanan yang melelahkan, tapi seru. Terima kasih Tuhan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s