Jalan-jalan · Semua Tentang Bandung

Saya Bersama Braga Di Dua Hari Yang Berbeda

BragaWeg

Malam itu, tepat di pinggir jendela yang menghadap ke jalan Solontongan saya mulai membuka lembar per lembar buku The Naked Traveler. Beberapa hari ke belakang tempat ini menjadi tempat favorit saya untuk membaca, juga menulis. Membaca dan menulis tentang sesuatu, apapun itu. Pun ketika malam itu, malam di mana saya membayangkan akan dipeluk oleh keheningan saat membaca buku karya dari seorang Trinity. Walaupun ternyata saya salah, tidak ada pelukan hening malam itu. Semua bayangan saya tadi buyar oleh suara ngorok seorang kawan, juga suara sirkulasi air di akuarium milik seorang teman berjuluk ririwa. Baru di halaman-halaman awal saya sudah menyerah. Lalu saya tutup kembali buku bercover  kuning itu, memilih mendengarkan musik daripada melanjutkan membaca buku menjadi pilihan saya agar tetap bisa menikmati malam.

Garpit saya apit di antara telunjuk dan jari tengah, secangkir kopi sachet yang masih hangat melambai-lambai minta diseruput. Setelah saya kombinasikan keduanya, saya membuka soundcloud, lagu di list terakhir yang saya putar adalah lagu berjudul Bandung milik Fiersa Besari. Maklum saja, Sabtu lalu secara tidak sengaja saya mendengarkan lagu itu secara langsung, di Balai Kota. Sepulangnya dari sana, saya mencoba mencari judul dan lirik lagu tersebut lalu mendengarkannya beberapa kali. Enak, apalagi kalo didengarkan di tengah malam seperti ini sambil membayangkan Bandung seperti pada lirik-liriknya.

Saya langsung teringat beberapa hari ke belakang. Ketika saya menjejaki trotoar Braga dua hari berturut-turut. Sabtu malam, dan Minggu pagi. Ada kejadian yang kontras. Bagaimana Braga di malam hari yang begitu ingar-bingar dengan Braga di kala pagi yang relatif sepi, hanya beberapa kendaraan saja yang terlihat sedang parkir.

Braga malam hari itu terbuat dari dua sejoli yang sedang bergandengan, desisan angin malam, pajangan lukisan yang indah, dan bangunan-bangunan tua yang seolah mendukung aktivitas siapapun yang ada di sana.

Pada Braga yang seperti itu sisi melankolis saya muncul, mulai baper, saya kembali teringat seseorang perempuan, perempuan yang bisa membuat saya sombong  dan membusungkan dada karena selain genggaman tangan kami yang saling bercengkrama, kami juga menggoreskan cerita tentang canda dan tawa di jalan bersejarah itu. Bak tuan dan nona di awal abad 20-an gitu lah, satu hal yang tak kalah penting, saya sudah mengalahkan berbagai stereotip beberapa teman tentang saya, yang menganggap saya tak punya “teman perempuan”. Hahaha…

Pada saat itu pula saya menangkap Braga seperti seorang perempuan berambut panjang, berkaca mata, memakai flannel, juga jeans robek-robek dan sepatu converse dengan tote bag di tangan kanan. Cantik. Selalu membuat orang-orang di sekitarnya ingin berlama-lama berada di dekatnya.

Lalu besoknya, Minggu pagi saya kembali menyusuri Braga. Beda sekali dengan apa yang saya lihat kala Braga di malam hari. Kegaduhan yang saya rasakan di malam hari tak terdengar. Suara lalu lalang kendaraaan masih bisa dihitung jari, pun begitu juga kendaraan yang parkir. Masih bisa saya hitung dengan satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan.

Braga pagi hari itu terbuat dari kelelahan, udara bebas, trotoar lengang, dan bangunan-bangunan tua yang masih setia merangkul semuanya.

Di depan salah satu restaurant bernama Braga permai inilah kepekaan saya dilatih. Saya yang kala itu berjalan beriringan dengan teman-teman masuk ke salah satu gang. Di mana di gang tersebut terdapat sebuah Kampung, bernama Kampung Apandi. Saya coba mencari beberapa info mengenai Kampung ini, salah satunya saya baca di blog https://komunitasaleut.com/2011/03/25/kampung-apandi/

Sepanjang gang yang cukup sempit, mata saya begitu tak lelahnya memandang kanan kiri. Rumah berdempetan, anak-anak yang bermain bola di gang-gang sempit, seorang ibu yang nyaliksik sambil menunggu masakannya matang, bapak-bapak yang ngopi dan menghisap kretek sambil ngobrol dengan para tetangganya. Seperti dua sisi mata uang. Kali ini, Braga yang khas dengan ingar bingar, dengan bangunan-bangunan tua, dengan deretan lukisan yang indah itu tidak ada.

Kali-kali, masuklah ke gang itu, teman. Kalian akan mendapatkan sesuatu yang bertolak belakang dengan jalan Braga seperti yang dikenal banyak orang. Seperti yang saya alami, saya disadarkan oleh Kampung ini. Kampung yang berbisik ke telinga kanan saya dengan halus “inilah sisi lain Braga, sisi lain Bandung”.

Di saat seperti itu, saya menangkap Braga seperti seorang perempuan berambut rontok, berkaos oblong, bercelana kucel, dan bersandal jepit. Tidak menarik. Membuat orang-orang di sekitarnya acuh tak acuh.

Mata saya menangkap landscape sebuah jalan bernama Braga yang begitu berbeda. Perjalanan saya selama dua hari berturut-turut itu memberikan pelajaran. Jika Seno Gumira Ajidarma mengirimkan sepotong senja untuk Alina, maka saya ingin mengirimkan suasana malam dan pagi di Braga itu untuk Eka. Tentu saja bukan dalam amplop yang tertutup rapat, melainkan melalui radar kepunyaan kami bernama neptunus. Saya harap neptunus mengirimkannya tepat waktu.

Iklan

2 thoughts on “Saya Bersama Braga Di Dua Hari Yang Berbeda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s