Tercurah Kata

Setelah Tulisanku Tentangmu, Kita Melepas Rindu Dengan Bertemu

Ini semua tentangku, juga tentangmu. Pertemuan kita di malam Minggu lalu menjadi sesuatu yang jauh dari kata horor. Berbeda dengan pertemuan pertama kita yang bagiku menakutkan, pertemuan kita malam itu justru berjalan sangat enjoy, santai, sederhana tapi dibalut dengan rasa yang dulu pernah ada suka cita, bak Rangga dan Cinta yang dipertemukan oleh waktu yang sedang menginginkan mereka bertemu.

Jika ditulisan pertamaku tentangmu eka dan rindu yang menahun aku berterima kasih kepada path yang mengabari ulang tahunmu. Kali ini, whatsapp seperti tak mau kalah. Dia mengabariku kalau kamu sedang menuju Bandung. Jujur, kaget juga sih dapat kabar mendadak seperti itu. Atau mungkin itu adalah efek dari tulisan pertamaku tentangmu beberapa waktu lalu. Sampai kamu sudah tak bisa menahan rindu itu, sama sepertiku. Hahaha… Kalau benar begitu, betapa ajaibnya sebuah tulisan.

Aku tak membayangkan Sabtu itu akan menjadi Sabtu yang berbeda. Sedari pagi, sepertinya hari itu bakalan menjadi hari yang sama seperti sebelumnya, Sabtu malam yang kelabu lalu menjadi debu dan tentu saja berlalu. Hahaha…

Selain whatsapp, Bandung bagian utara di Sabtu itu seperti mendukung pertemuan kita. Seperti biasa, Sabtu siang saya bersama teman-teman dari Komunitas Aleut mengadakan Kelas Literasi. Kegiatan itu diadakan di salah satu taman, di kampus daerah Setiabudi. Di pertengahan diskusi, aku mendapatkan whatsapp dari seseorang yang aku rindukan kehadirannya, Eka Puspitasari. Dia bilang lagi di jalan menuju Bandung. Kalau ada waktu mari bertemu, katanya. Jleb…

Belum lama saya membaca whatsapp dari Eka, suara BBM yang masuk kembali membuatku harus membuka kunci handphone. Indah. “Lagi di mana? Ngopi yuk!”. Anjiiir… Setelah pesan itu masuk, kalian tahu saya sedang merasa apa? Merasa ganteng. Hahaha…

Aku bingung, namun mengiyakan pertemuan dengan Eka sudah kadung aku buat. Aku menolak dengan halus pertemuan dengan Indah. Maaf, Ndah. Bukan aku so ganteng, atau so-so yang lain, kamu telat beberapa menit.

Kegiatan di Setiabudi telah selesai, aku langsung meluncur ke titik tempat pertemuan. Gerbang masuk perumahan Setra Duta. Sebelum sampai Setra Duta, handphone mati karena baterai sudah menyerah menanggung ramainya lalu lintas chat dari pagi. Bukan itu saja, hujan yang sebelumnya rintik-rintik seketika berubah menjadi hujan dengan tempo yang cepat. Deras.

Satu hal yang akhirnya bikin kita bertemu, rindu yang menahun. Ya, mungkin kalau rindu kita belum memuncak sepertinya kita tidak akan bertemu malam itu. Hujan, komunikasi tak ada, motor yang mulai ngadat (baca: mogok) karena busi terkena air, lengkap sudah. Sejenak aku membayangkan diri seperti tokoh Keenan, dan Eka seperti tokoh Kugy di Perahu Kertas-nya Dewi Lestari. Aku mengangkat kedua tangan di atas kepala sambil telunjuk menengadah ke langit, dan harapan aku, Eka pun melakukan hal yang sama. Tujuannya satu, mencari radar seperti Keenan dan Kugy, radar neptunus.

Aku tak patah arang, cara pertama yang aku pakai adalah mendekati warung pinggir jalan untuk membeli rokok. Ngobrol ngaler ngidul, sampai pada titik tujuan utama. “Kang, gaduh charger android?” tanyaku. “Aduh, teu gaduh a charger jiga kitu mah, bapak mah ngangge nokia nu ageung” dia menimpali. Tak sampai di situ, aku bergeser sekitar 50 meter. Berpindah warung, kali ini ke warung yang menjajakan gorengan. Keberuntungan memang berbanding lurus dengan usaha. Di warung gorengan ini aku mendapati pedagang yang kira-kira berusia 28 tahunan. Sambil menunggu pelanggan, dia memainkan handphonenya sambil ngecas. Aku tak langsung meminjam charger yang sedang dia pakai. Menurut feeling dan ilmu komunikasi yang aku pelajari secara otodidak, jika aku langsung meminjam charger kemungkinan untuk dikasih pinjamnya tipis. Maka aku membeli barang dua-tiga gorengan sambil bercerita. Dan akhirnya handphoneku hidup lagi. Hujan pun mulai berhenti. Lega….

Pesan whatsapp dari Eka muncul bertubi-tubi ketika aku mulai menghidupkan handphone. Tak berapa lama, akhirnya kita bertemu. Senyum dan salam menjadi awal pertemuan kita setelah lama tak bertemu. Lalu, kami bermalam minggu, sebelumnya kita meluncur ke arah jalan Buah Batu, dengan niat meminjam motor seorang kawan yang lebih jagjag, agar malam minggu kita tak terganggu oleh alasan motor mogok. Kalian tahu saat itu saya sedang merasa apa? Merasa seperti Dilan yang sedang menjemput Milea. Hahaha…

Seperti yang telah saya sebutkan tadi, aku pergi ke Buah Batu untuk meminjam motor. Hujan turun lagi, maka selain motor, aku meminjam flannel seorang kawan untuk ku serahkan kepada Milea Eka. Malam itu hujan memang turun, tapi aku bersyukur, hujan datang di saat yang tepat, di saat saya sedang berada bersama seorang perempuan, bukan bersama laki-laki yang tak jatuh cinta bertahun-tahun. Lalu malam itu kutumpahkan semua rinduku untuknya.

Kita jalan-jalan malam itu, uangku yang pas-pasan tak membuatku hilang akal untuk bermalam minggu dengannya. Moment ini jarang banget terjadi. Setelah kukurilingan Bandung dengan motor pinjaman, aku arahkan Eka ke Jalan Ambon No 16. Kita bercerita banyak hal, termasuk sidangnya yang sukses. Dan malam itu, rindu menahun yang kita alami akhirnya terbayar tuntas dengan cara yang sangat sederhana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s