Tercurah Kata

Eka dan Rindu Yang Menahun

ultah

Pagi tadi aku dibangunkan oleh udara dingin yang berhembus ke beberapa bagian tubuh. Tanpa perlawanan, aku harus menyerah dengan sedikit bargumam dalam hati kepada dinginnya udara pagi. Begitulah resiko tidur tanpa ancang-ancang. Tidur karena kelelahan gara-gara aktifitas seharian membuatku lupa akan selimut, bantal, guling dan seperangkat alat tidur lainnya.

Seperti kebanyakan orang-orang ketika bangun tidur, aku menomorduakan minum air putih untuk sekedar membuat licin tenggorokan di pagi hari. Hal seperti itu tidak lebih penting dibandingkan mengambil handphone lalu cek berbagai sosmed dan notif yang masuk. Benar saja, beberapa notif masuk ke sosmedku. Di path salah satunya, “aplikasi sombong” ini memberi tahuku kalau ada dua orang teman yang sedang ulang tahun di hari itu, 3 Agustus 2016. Satu laki-laki dan satu lagi seorang perempuan. Tak usah aku ceritakan sosok laki-laki yang sedang berulang tahun, tak menarik. Aku lebih tertarik menceritakan sosok perempuan yang juga sedang berulang tahun hari itu. Bukankah menceritakan perempuan selalu menarik?

Eka Puspitasari. Calon perawat yang bulan ini, selain berulang tahun, juga tengah disibukkan oleh sidang. Entah bagaimana saya bisa mengenal sosok perempuan berkerudung ini. Yang jelas perkenalan kami berawal dari twitter. Ketika dia masih SMA dan masih lucu-lucunya.

Tak usah ku ceritakan bagaimana aku mendapatkan hampir seluruh sosmednya. Facebook, twitter, path, instagram, sampai Instant Messenger yang dia punyai seperti BBM, whatsapp, dan line. Terlalu mudah bagiku mendapatkan yang seperti itu. Mudah.

Yang susah bagiku dan mungkin juga untuk dia adalah pertemuan. Bertahun-tahun kita berteman, hanya sekali kita bertemu, di pusat Kota Bandung. Masih ingatkah kau, Eka? Ketika aku ajak kau jalan-jalan di wajah baru alun-alun Bandung, ramai, bahkan sangat ramai. Ridwan Kamil seolah tau kau akan datang ke kotanya. Acara Car Free Night saat itu seakan diperuntukkan untukmu. Kita keliling tak tentu arah, obrolan juga tak jelas. Hingga akhirnya, di rumput sintetis tempat kita selonjoran, aku memberikanmu sebuah buku. Buku yang akhirnya difilmkan.

Moment itu yang sangat aku ingat tentangmu, Eka. Jika path tak memberitahuku perihal ulang tahunmu mungkin aku tak akan tau hari jadimu. Mungkin pula moment kita itu tak akan pernah dituliskan. Karena waktu adalah fana, kita abadi.

Selamat ulang tahun, Eka. Cepat lulus, lalu kita bayar tuntas rindu itu.

Bukankah klimaks dari rindu itu bertemu?

 

Iklan

One thought on “Eka dan Rindu Yang Menahun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s