Jalan-jalan

Ada Rindu Di Lempuyangan

Setiap Ramadan bagi saya adalah bulan di mana ingatan akan masa kecil kembali merasuki otak. Bahkan ketika Ramadan belum datang pun, ketika bulan masih di penghujung Sya’ban, ingatan itu sudah mulai nampak. Ingatan yang menjurus kepada kenakalan-kenakalan masa lalu. Kenakalan khas anak kecil. Main petasan di pinggir rumah, “nyembunyiin” sandal orang lain ketika shalat tarawih, membangunkan orang sahur dengan menabuh galon kosong dengan sangat keras (lebih kepada seperti orang ngajak ribut) dan lain sebagainya. Karena memang, bagi saya bulan Ramadan itu istimewa, lebih istimewa dari Jogjakarta.

Berbeda dengan Ramadan tahun ini, ingatan tentang kenakalan dan kegiatan masa kecil itu tidak terlalu mendominasi. Hanya sekali dua terlintas dibenak saya, itu pun karena tulisan-tulisan di internet yang bikin saya “baper”. Selebihnya, Ramadan kali ini justru mengingatkan saya akan sebuah perjalanan. Perjalanan yang mengenalkan saya kepada daerah istimewa bernama Jogjakarta.

Ramadan tahun lalu saya nikmati dengan sedikit tidak lazim. Jauh dari tempat tinggal, yang tentunya juga jauh dari keluarga. Pekerjaan saya saat itu menuntut saya untuk bisa beradaptasi dengan kota yang baru. Namun seiring waktu, saya menikmati tinggal di kota baru ini, kota Jogjakarta. Apalagi ketika saya mendapati tetangga yang begitu baik, sopan dan ramah. Dengan senyum tulusnya, menjelang berbuka puasa, seringkali tetangga yang akhirnya saya sebut dengan panggilan mba’e itu tak bosannya mengantarkan takjil. Inilah Ramadan pertama saya di kota yang terkenal dengan gudegnya itu.

“Bagi setiap orang yang pernah tinggal di Jogja pasti setuju, setiap sudut kota Jogja itu romantis” itu quote yang saya ingat dari seorang Anies Baswedan. Menilik apa yang dikatakan Pak Anies , sebagian dari kalian yang pernah berkunjung atau sempat tinggal di Jogja mungkin mengangguk tanda setuju. Tapi tidak dengan saya, coba bayangkan, saya dan seorang teman duduk berdua di sebuah angkringan, minum teh yang terlampau manis diselingi ngobrol ngaler ngidul. Sedangkan di angkringan lain yang bersebelahan, dua sosok lelaki dan perempuan sedang “curhat”, sorot mata dari kedua orang tersebut begitu bicara seakan satu dan lainnya saling memahami, sesekali sang lelaki menyuapi sate usus kepada perempuan tersebut yang dibarengi dengan gestur anggukan kepala seolah-olah mengiyakan “curhatan” si perempuan tadi.

Berbeda dengan angkringan tempat saya dan teman saya, obrolan yang keluar dari mulut kita adalah obrolan yang seolah hanya agar kita tidak kelihatan sedang bermusuhan. Kalau sudah begitu, menurut kalian lebih romantis yang mana? Memang banyak definisi mengenai romantis, tapi setelah saya tinggal di Jogja dalam kurun waktu beberapa bulan, saya menyimpulkan kalau Jogja tak begitu romantis, sama halnya dengan kota-kota lain. Tentunya romantis versi saya.

Setelah beberapa bulan tinggal di Jogja saya harus meninggalkan kota ini. Pekerjaan saya di kota ini telah selesai. Itu artinya saya harus kembali ke Bandung. Perlu diketahui, pekerjaan saya di Jogja ini adalah suatu proyek, maka ketika beres proyek tersebut saya harus mulai mencari lagi pekerjaan baru. Saya memutuskan untuk mencari kerja di kota sendiri, kota kelahiran, Bandung. Setidaknya saya punya pengalaman bekerja di luar kota Bandung, pengalaman memahami “kota orang”, beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dan yang paling penting adalah belajar mandiri.

Saya berpamitan kepada Mba’e untuk pulang ke Bandung, ucapan terima kasih saya rasa adalah hal yang wajib saya sampaikan kepada dia. Sosok yang tulus, yang begitu baik terhadap saya selama saya bekerja di Jogja. Setelah berpamitan kepada tetangga-tetangga saya pun beranjak untuk menuju stasiun Lempuyangan. Ya, saya pulang naik kereta. Sebelumnya saya pergi ke Jogja naik Bus, entah kenapa saat itu saya ingin sekali naik kereta.

Sesampainya di stasiun Lempuyangan saya menunggu beberapa saat sampai kereta tiba. Sambil menunggu, saya ngobrol basa-basi dengan pemilik warung nasi. Yang pada akhirnya kami saling sharing pengalaman dan bercerita satu sama lain, saya lupa tidak menanyakan nama, saat itu saya memanggil pemilik warung nasi itu dengan sebutan mbak. Seketika ada keterlibatan perasaan antara saya dengan Jogjakarta, saya merasa masih ingin lama tinggal di kota ini. Saya sudah mencintai kota ini walaupun baru beberapa bulan tinggal di sini. Dan di sini, di Lempuyangan, ingatan masa-masa pertama kali bekerja di kota ini kembali muncul. Kebaikan Mba’e, kesinisan saya akan pasangan yang begitu mesra di angkringan, jalan-jalan ke Gua Pindul, dan masih banyak lagi.

Sebelum menaiki gerbong kereta, saya mengamati setiap penjuru stasiun Lempuyangan. Tiba-tiba hati berkata, saya merindukan kota ini, dan akan kembali ke kota ini. Karena seperti apa yang dikatakan oleh Joko Pinurbo “Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”.

Iklan

5 thoughts on “Ada Rindu Di Lempuyangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s