Hembusan Suara

“KEHANGATAN” DI SABTU MALAM

12729445_382464345210760_532169728_n
Itu berkumpul, itu berbagi, itu ramai, itu dinamis, tak akan pernah membosankan. Hanya hilang oleh saling memusnahkan. ~Pidi Baiq. (Photo: Puteri ZS)

 

Sore menjelang maghrib, tepatnya di hari Sabtu 27 Februari 2016. Saya sedari pukul 15.00 berada di salah satu kedai di jalan Solontongan 20 D, Kedai Preanger namanya. Tempat berkumpulnya para teman-teman saya dari Komunitas Aleut, yang baru saja menyelesaikan salah satu kegiatan rutin di setiap hari Sabtu, yakni Resensi buku. Kegiatan resensi buku yaitu kegiatan di mana kita mempresentasikan isi dari buku yang telah kita baca sesuai interpretasi pribadi mengenai isi buku tersebut.

Cuaca sore saat itu tidak cerah, tapi disebut mendung pun tidak. Mungkin cuaca saat itu adalah cuaca yang cocok untuk bepergian bersama orang terkasih, bisa pacar, atau bisa juga dengan keluarga. Tapi saya memilih untuk tidak bepergian, saya hanya berkumpul bersama mereka, bersama teman-teman Aleut.

Langit di kota Bandung perlahan menghitam ketika teman-teman saya yang lain mulai berdatangan. Begitupun dengan gerimis yang mulai membasahi jalan di sekitar Buah Batu, Karawitan dan Solontongan. Saya curiga, jangan-jangan teman-teman saya itu janjian dengan gerimis untuk datang beriringan, entahlah.

Di Kedai suasana agak menghangat, rencana saya sebelumnya untuk mengadakan ngaliwet sehabis kegiatan resensi buku sontak menjadi moment yang saya dan teman-teman lainnya perbincangkan. Ya, rencana ngaliwet ini memang saya usulkan sehubungan dengan tepat satu bulannya saya bekerja di tempat baru, di daerah Batununggal. Itu artinya saya baru dapat gaji pertama. Sekalian syukuran kecil-kecilan juga. Bukankah bersyukur merupakan cara paling mudah untuk mencicipi kebahagiaan?

Tidak berlama-lama, saya serta Iwan pergi berbelanja bahan untuk dimasak. Dan si Iwan ini seperti ngasih contoh kepada saya apa saja bahan yang diperlukan untuk ngaliwet . Seperti, bahan sambel, asin, peuteuy, tahu, tempe dan lain sebagainya. “Gila juga ini si Iwan, lelaki dengan perawakkan gempal tapi lincah memilih setiap bahan masakan” kataku. Tak lebih dari setengah jam bagi Iwan untuk selesai membeli bahan masakkan, kami berdua bergegas ke Kedai untuk bergabung bersama teman lainnya yang sudah menunggu.

Suasana Kedai yang paciweuh diselingi guyonan-guyonan khas urang sunda ketika memasak dan berbagi tugas menjadi pemandangan yang mengasyikkan. Apalagi ketika hidangan yang sederhana tapi syarat makna ini selesai dimasak, semua berkumpul dan mengambil makanan, khas parasmanan. Atmosfir Kedai Preanger saat itu begitu hangat, begitu cair. Dan asal kalian tau, hujan gerimis di Sabtu Malam saat itu seperti mendukung kegiatan kami. Kegiatan yang menurut saya tak pernah membosankan sekalipun saya tahu kalo sebagian diantara kami bosan dengan “kesendiriannya”.

Kami menyantap dengan sangat lahap makanan yang tersaji di atas meja berukuran sedang itu. Dikarenakan ada beberapa teman yang kebetulan tidak bisa hadir, salah satu teman saya, Anggi, dengan lantangnya berujar “waduh, pak Alex diwakilan ku saya cenah” sambil kembali menuangkan nasi panas liwet ke piringnya. Sontak suasana Kedai menjadi semakin ramai.

Di saat hujan gerimis menawarkan kedinginan, saya dan teman-teman dari Komunitas Aleut memancarkan kehangatan. Kehangatan sebagai teman dan kehangatan sebagai keluarga.

@akayberkoar

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s