Semua Tentang Bandung

Buku “Basa Bandung Halimunan” yang memaksa saya berfantasi dan berimajinasi dengan Bandung kala itu

12728567_785411878260689_1381163826_n(1)

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Us Tiarsa, penulis buku Basa Bandung Halimunan yang bisa bikin saya membayangkan bagaimana suasana Bandung di kala itu. Sungguh, walaupun ditulis dalam Basa Sunda, cara penyampaian yang penulis paparkan sangat mudah dicerna oleh saya yang membacanya. Dengan pemaparan penulis yang seolah-olah bercerita pengalaman beliau di masa lalu, saya seperti diajak kang Us Tiarsa untuk masuk ke dalam cerita beliau.

Tak heran ketika kang Us Tiarsa pernah mendapatkan Hadiah Sastra Rancage atas kumpulan cerpennya, Halis Pasir. Hadiah Sastra Rancage yakni penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan  bahasa dan sastra daerah. Hal itu menguatkan saya kalau secara individu kang Us Tiarsa ini memang punya perhatian lebih terhadap bahasa dan sastra daerah, terutama Basa Sunda.

Dengan judul  Basa Bandung Halimunan yang dalam Bahasa Indonesia berarti Ketika Bandung Berkabut, Kang Us Tiarsa berhasil membuat saya penasaran. Mungkin dari kalian akan timbul pertanyaan, apa yang akan dirasakan saya sebagai pembaca ketika membuka halaman per halaman? Begini, ada salah satu bagian di mana Kang Us Tiarsa bercerita mengenai suasana Bandung saat itu, tepatnya di halaman 59 “Asa can lila robahna Bandung teh. Tahun 1970-an mah masih keneh karasa segerna hawa Bandung teh. Komo taun 1950-an mah, hirup di Bandung teh karasa pisan betahna teh. Ku urang Tasik jeung Garut mah Bandung teh disebut kota panyipuhan. Jalma nu ngalumbara di Bandung, ana balik ka lemburna teh sok robah, kawas nu disangling we. Jadi salaleger, balerseka, katambah make papakean nu rada ngota, meureun. Teu rek kitu kumaha, sabab taun 1950-an mah Bandung teh asa kacida endahna. Kota pangreureuhna lantaran hawana seger, teu kasaput ku haseup knalpot. Bareresih bari lalinduk, loba tatangkalan jeung rupa-rupa  kekembangan. Atuda masih keneh arang mobil jeung motor oge.”

 Perasaan ini takjub, saya seolah diajak berfantasi juga berimajinasi dengan keindahan kota ini di masa lalu. Membayangkan Kang Us Tiarsa ngaleut bersama teman-temannya di waktu meletek panon poe menyusuri jalanan kota Bandung, saling guyon dengan teman saantragan, dan satu lagi, membayangkan para pengumbara yang berasal dari Garut dan Tasik yang ingin meninggalkan kota kelahirannya.

Membandingkan Bandung jaman dulu dan sekarang memang takkan ada habisnya. Tapi setidaknya saya tahu walaupun tidak pernah merasakannya, kalau dulu, Bandung adalah kota di mana pada jam 10 pagi dingin dan sejuknya udara masih sangat terasa, bahwa dulu gedung pakuan bisa terlihat jelas dari arah tegallega, bahwa (sudah dari ) dulu kareta mesin (red: sepedah) adalah kendaraan paling populer sebelum adanya motor.

Bandung adalah kenangan, kota yang selalu bikin kangen ketika saya berada jauh di luar kota. Bandung adalah rumah. Iya rumah, seperti apa yang dikatakan oleh Henry Anatole Grunwald ia (rumah) adalah tempat kelahiran yang disempurnakan oleh kenangan. Dan kenangan kang Us Tiarsa Basa Bandung Halimunan akan selalu tertanam dalam benaknya.

 

@akayberkoar – menulis tulisan ini sambil dengerin Bandung-nya Mocca

              

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s